The Grace of Life, the Glory of Easter IV

Yesus dan Grace Gloria

Hari Senin malam, beberapa sahabat cordisian yang tergabung dalam Youth Mission 4 Life (YM4L) mengikuti sessi tentang Humanae Vitae oleh Rm.Deshi Ramadhani, SJ, di sebuah kursus yang diadakan oleh TOBIT (Theology Of the Body InsighT), salah satu kerasulan Domus Cordis, komunitas kami. Humanae Vitae adalah ensiklik yang ditulis oleh Paus Paulus VI tentang sakralnya hidup manusia, dan bagaimana kita dipanggil untuk berjuang demi anugerah kehidupan ini. Sesudah itu, kami pergi bersama Rm. Paulus Dwiyaminarta, CSsR, salah satu pendamping komunitas kami, untuk ngobrol-ngobrol tentang YM4L. Saat sedang ngobrol sebuah pesan singkat dari Bimo masuk “Grace sudah pulang…”

Malam itu beberapa dari kami bergegas ke Rs. Carolus, tepatnya rumah duka Carolus. Karena rumah duka penuh, maka tubuh baby Grace dibaringkan di ruang transit untuk satu malam saja, sebelum keesokan harinya dibawa ke Bogor dan dimakamkan di pemakaman keluarga. Again, she looked so cute. Dibalut selimut kuning dan topi kuning, Grace tampak tersenyum. Lia bilang “It’s a good fight GraceYup, it is finished. Apapun misinya, misi itu telah selesai. Di hati saya terbersit sebuah ide. Mungkin Grace yang justru sedang berkata ke kita semua di sekeliling peti itu “No, I’m just a baby with a mission. It’s a good fight that you guys have been doing. Please keep on doing it for other lives…”

Malam itu Lia dan saya pulang, dan sebelum tidur kami siapkan teks lagu untuk Misa Requiem paginya.

Pukul 7.30 kami berdiri di depan peti kecil Grace, lagu Amazing Grace dinyanyikan, dan Rm. Deshi berjalan menuju meja altar kecil yang sudah disiapkan di sebelah peti. Amazing grace how sweet the sound, that saved a wretch like me. I once was lost but now I’m found, was blind but now I see. Yup, rahmat Tuhan memang mengagumkan, se-mengagumkan bayi kecil tidak berdaya, yang dipakai Allah untuk menyerukan anugerah kehidupan. Saat homili, Rm.Deshi mengatakan bahwa Bimo dan Ninu telah menang, karena memilih untuk bersama Yesus sendiri memperjuangkan kehidupan. Di benak saya terbayang baby Grace yang untuk pertama kalinya ikut Misa. Hati kita yang berdosa saja kadang begitu “terangkat” waktu Allah hadir dalam Ekaristi, apalagi Grace yang tanpa dosa. Betapa hatinya pasti begitu penuh dengan sukacita dan cinta Tuhan. Maka sekali lagi kita semua bernyanyi …Betapa ajaib dan dahsyatNya Tuhan kejadianku, Kau menenun diriku serupa gambaranMu, sungguh berharga di mataMu Tuhan kehidupanku, kau membawa hatiku mendekat erat dengan hatiMu…

…dan tubuh Grace-pun diberangkatkan ke Bogor, dan dimakamkan di sana. Tapi rohnya telah terbang bersama Yesus. Lewat sakramen baptis dan kematian, ia telah memasuki kehidupan yang sesungguhnya.

Beberapa catatan terakhir

Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Segala sesuatu diciptakan oleh Tuhan dengan maksud dan tujuan tertentu, yang semuanya menunjuk pada keilahian Allah sendiri. Paskah menjadi perayaan besar, sebab pintu gerbang kehidupan yang sesungguhnya terbuka lebar bagi semua yang telah mati dan bangkit bersama Yesus. Kegelapan malam telah dihalau oleh cahaya terang dari makam yang terbuka. Keputusasaan digantikan oleh harapan yang hidup bersama dengan bangkitnya Anak Manusia. Hidup yang fana di dunia ini telah digantikan oleh hidup yang kekal dalam kemuliaan Sang Pencipta Kehidupan.

Sebab semua orang yang dipilihNya dari semula, mereka juga ditentukan dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran anakNya, supaya Ia anakNya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukanNya dari semula, mereka itu juga dipanggilNya. Dan mereka yang dipanggilNya, mereka itu juga dibenarkanNya. Dan mereka yang dibenarkanNya, mereka itu juga dimuliakanNya (Rm 8:29-30).

Sejak usia 5 bulan dalam kandungan Ninu, baby Grace Gloria telah diundang untuk bersatu dengan Yesus yang memberitakan penderitaanNya. Hari itu Hail Mary full of grace… pertama kali diangkat untuk mempersembahkan hidup yang rapuh ke dalam doa dan perlindungan Bunda Maria. Maria adalah a Mother who is full of grace, yang selalu setia menghantar kita semua pada Salib dan bahkan kemuliaan Puteranya. And so in her maternal love, the baby was named Grace Gloria.

Bimo dan Ninu tinggal di kamar Santo Josef, seorang santo pelindung kehidupan yang menjaga Maria dan bayi Yesus sendiri dalam pelarian dari Herodes. Bukan hanya itu, karena ia meninggal dunia didampingi oleh Maria dan Yesus sendiri, maka St.Yosef juga adalah santo pelindung orang-orang yang sedang dalam keadaan mendekati kematian. Apakah kebetulan keluarga dengan bayi beresiko ini ada di dalam kamar St.Yosef?

Di ruang atas, di kamar Goretti, baby Grace terbaring dengan segala alat bantunya, menghabiskan waktu-waktu terakhirnya bersama Bimo dan Ninu – seperti di ruang atas Yesus menghabiskan waktu-waktu intim dan detik-detik terakhir bersama para sahabatNya.

Santa Maria Goretti adalah salah satu orang kudus termuda yang digelari santa, dan sekaligus salah satu pelindung orang muda. Tidak ada satu katapun yang terucap oleh baby Grace selain tangisan pendek di hari kelahirannya. Begitu juga tidak ada satupun kata yang diucapkan oleh Santa Maria Goretti yang dicatat dalam sejarah, namun perjuangan mempertahankan kesuciannya bagi Allah menjadi inspirasi bagi banyak wanita-wanita muda yang mau hidup suci bagi Allah dan GerejaNya.

Bagi saya, yang paling indah dari kehidupan Grace adalah masa hidupnya. Hari Minggu Palma kita merayakan Yesus yang memasuki Yerusalem untuk menjalani hari-hari terakhirNya di dunia ini. Yesus secara istimewa mengajak Grace menemaniNya di Yerusalem, menderita hingga wafat di puncak Kalvari. Hari Minggu Paskah kita merayakan Yesus yang bangkit dari kubur untuk mewartakan harapan akan hidup yang kekal. Sehari sesudahnya, Grace meninggal dunia. Sekali lagi Yesus secara istimewa mengajak Grace menemaninya bangkit untuk memasuki hidup yang kekal. Selama pekan suci Grace ada bersama kami semua. Ia yang telah bersatu dengan penderitaanNya, ia yang telah bersatu dengan kematianNya, tidak pernah ditinggakan sendirian di dalam kubur. Enam hari usia hidup Grace di dunia ini, dan di hari ketujuh ia memasuki hidup yang kekal bersama Tuhan. Bagi orang yang percaya, kematian tidak pernah menjadi akhir dari perjalanan hidup kita. Justru di balik kematian, ada hidup yang lebih penuh, lebih bahagia, dan lebih mulia. Grace menujukkan ini dengan jelas, justru setelah ia menghembuskan nafasnya yang terakhir di dunia ini. Yes, malam itu ada satu pesan penting lagi yang Grace ingin sampaikan ke kita semua, pesan terakhirnya.

Semua ruang di rumah duka penuh, yang tersisa tinggal ruang transit bagi jenasah. Hati saya tersenyum waktu mendengar berita ini. Berita penderitaan, drama penderaan, dan situasi ketidakberdayaan kita, waktu berhadapan pada cemerlangnya Paskah, mau tidak mau akan menggemakan di hati kita semua bahwa hidup di dunia ini cuma sekedar transit. Ada yang jauh lebih penting dan lebih mulia di balik semua pergumulan dan pengharapan kita. Anugerah kehidupan memang sungguh berharga, tapi anugerah ini baru mencapai kesempurnaannya waktu dipersatukan dengan Kristus yang bangkit dan mengundang kita masuk ke dalam kekekalan bersama Dia. Semua yang kita hadapi hari ini, entah itu sakit, sehat, miskin, kaya, sedih, susah, semuanya hanya sementara, bahkan dibandingkan dengan kekekalan, semuanya amat sangat singkat. Waktu berlalu dengan cepat, dan hidup yang kita jalani ini sungguh rapuh. Kekuatan yang sesungguhnya terletak pada pilihan-pilihan yang kita buat di waktu hidup yang singkat ini, sebab saat inilah kita meletakkan dasar-dasar bagi hidup kita di dunia mendatang. Hidup di dunia ini cuma transit, kata Grace – dan Grace pun cuma mampir sebentar untuk mengajarkan kita arti berjuang demi kehidupan yang penuh cinta dan pengharapan, lalu iapun berlalu bersama Yesus, pencipta dan kekasih sejati hatinya. When together with Jesus we fight for life, we gain eternal life.

This is the story of grace – the grace of Life.

This is the story of glory – the glory of Easter.

This is the story of Grace Gloria.

(end)

The Grace of Life, the Glory of Easter III


Yesus memilih cawan itu

Di taman Getsemani Yesus tunduk berdoa. Ia tahu pasti apa yang akan terjadi padanya. Kitab Yesaya berkata bahwa ia akan menderita sedemikian hebatnya sampai-sampai rupanya “…bukan seperti manusia lagi” (bdk. Yes 52:14). Yesus punya pilihan untuk lari dari penderitaan, dan mencari yang nyaman, serta jauh dari rasa nyeri. Namun cintaNya terlalu kuat untuk dikalahkan, dan Iapun memilih untuk setia pada kehendak Allah – apa yang baik dan apa yang berkenan di Hati BapaNya.

Di hari Kamis Putih, kisah sengsara Yesus dibacakan. Perjalanan dari taman Getsemani menuju Golgota penuh dengan luka dan darah, karena di dalamnya ada drama penderaan, jatuh berkali-kali, dan bangkit berjalan lagi sampai Salib ditegakkan di atas bukit. Sekalipun jatuh, Yesus tidak pernah menyerah. Tubuhnya letih dan berdarah, namun Ia terus berjalan mendaki bukit pengorbananNya, sampai semua kehendak BapaNya digenapi. Jumat Agung menjadi saksi keagungan cinta yang tergantung di atas kayu Salib. Kayu itu tidak bisa menahan Pencipta Langit dan Bumi, tapi cinta membuatNya kuat bertahan. Paku itu tidak bisa mengikat tangan yang menyembuhkan, tapi justru tanganNya sengaja ia relakan ditembusi paku, supaya oleh bilur-bilurNya kita disembuhkan.

Perasaan Bunda Maria naik turun, saat seorang ibu melihat anaknya sendiri menderita sedemikian hebatnya.

She’s a fighter” kata Ninu, waktu kondisi Grace mulai tidak stabil. Berulangkali kondisinya drop, tapi Grace lalu bangkit dan kembali stabil. Beberapa kali denyut jantung Grace melemah, tapi dikuatkan oleh cinta orangtuanya, lagi-lagi ia kembali normal. Saya tidak tahu harus berdoa apa, apakah supaya mujizat kesembuhan terjadi, atau supaya Grace segera pergi kepada Yesus. Lagi-lagi di tengah ketidakberdayaan, saya mengucap doa Salam Maria… Hail Mary, full of grace… Bunda pasti tahu yang terbaik buat anaknya.

Hari Sabtu sore hati saya terangkat waktu mengikuti Misa Vigili Paskah. Perayaan Paskah dengan upacara pemberkatan lilin dan api di pembukaannya selalu punya arti tersendiri buat saya. Lilin yang ditandai 5 paku dupa sebagai tanda luka-luka Yesus, menjadi lambang yang hidup akan Anak Manusia yang terluka, namun bercahaya bagi dunia. Api ini lalu dibagikan kepada semua umat sehingga kita semua diterangi oleh cahaya Kristus yang memimpin kita menuju pembebasan dari dosa. Sembilan (9) bacaan, atau kadang hanya lima (5) yang dibacakan, selalu membuat hati saya terangkat dan terpesona akan karya penyelamatan Allah bagi umatNya. Begitu pula lilin besar yang dicelupkan ke dalam air sehingga air ini menjadi kudus untuk digunakan dalam memperbaharui janji baptis kita. Ah, how I love Easter Vigil liturgy. Liturgi paskah selalu indah dan kaya akan simbol-simbol yang apabila dihayati dengan sungguh, selalu punya daya ilahi yang menggerakkan hati kita lebih dekat lagi dengan misteri kebangkitan.

Tapi kali ini misteri sengsara dan bangkitnya Yesus menjadi lebih kaya lagi dengan kehadiran baby Grace, yang terus menemani penderitaan Tuhan lewat kondisinya yang naik turun. Malam itu Lia dan saya mampir lagi di Carolus, memandang Grace yang sepertinya semakin lemah, sambil hati ini mengucap lagi Hail Mary, full of grace… I know the heart of Mother Mary is full of prayer for Grace.

Malam itu kami merayakan tirakatan kebangkitan Yesus, what about Grace?

Yesus bangkit

“Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit…” (Mat 28:6)

Ada sebuah lagu lama yang kata-katanya begini “Because He lives I can face tomorrow…and life is worth the living just because He lives”. Tapi bagaimana rasanya menjalani perayaan Paskah dengan seorang anak bayi yang menderita kelainan seperti ini? Apa perbedaannya antara hari-hari sebelum Paskah dan pada hari Paskah, kalau baby Grace tetap berada di dalam inkubator?

Sore itu Bimo, Ninu, Lia, dan saya berada di depan ruang Goretti, bersama Rm. Deshi yang juga datang menjenguk setelah Bimo mengirimkan SMS tentang kondisi Grace yang semakin menurun. Kami bersama meluangkan waktu sambil berdoa, dan mengambil foto-foto Grace dari berbagai sudut. Ia berbaring di dalam inkubator, badannya semakin kecil. Tidak ada yang tahu kapan drama ini akan berakhir, dan entah berakhir seperti apa.

Ada perasaan aneh yang bergerak di dalam hati saya. Di hadapan saya terbaring seorang bayi kecil tidak berdaya. Ia baru saja dibaptis beberapa hari yang lalu, yang membuatnya milik Kerajaan Allah. Tapi ia bukan saja sekedar sebuah bagian dari kerajaan Allah. Kenyataan bahwa ia masih seorang bayi membuatnya belum mampu untuk berbuat dosa sama sekali. Maka yang terbaring di depan saya bukan hanya seorang bayi yang sepertinya tidak berdaya, tapi juga seorang manusia suci yang sudah di-claim sebagai milik Allah, yang tidak bercela sama sekali. Maka dalam arti tertentu ia sungguh suci dan sepenuhnya milik Allah. Dalam arti tertentu ia lebih penuh sebagai milik Allah daripada saya sendiri, yang sudah banyak berbuat dosa. Maka here we were, di depan seorang bayi lemah yang tidak berdaya, tapi juga ketidakberdayaan yang memancarkan kesucian tanpa dosa. Dari dalam ketidakberdayaan tanpa dosa ini, Grace sedang mengajarkan kita semua tentang apa artinya berjuang demi kehidupan.

Tidak berdaya, tidak berdosa, dan menyerukan arti sesungguhnya dari anugerah kehidupan – bukankah itu seperti Yesus yang menderita tergantung di kayu Salib demi kehidupan umat manusia. Di hari Minggu Paskah, dari dalam sebuah inkubator kecil di ruang Goretti, Yesus memancarkan keagunganNya lewat baby Grace Gloria. Baby Grace memiliki tempurung kepala yang tidak sempurna dengan pembetukan otak yang tidak sempurna juga. Tapi dari keadaannya ini misteri Paskah terpancar kuat menembusi hati saya yang begitu rapuh. Di dalam sebuah inkubator kecil, ada kemuliaan Tuhan yang mengambil wujud manusia lemah. Allah yang maha besar memang seringkali memilih apa yang oleh dunia tampaknya kecil, bodoh, dan tidak berdaya untuk menunjukkan misteri kedalaman HatiNya. Tidak heran seringkali Kabar Gembira lebih mudah ditangkap oleh hati-hati yang sederhana.

Malam itu di rumah, sebelum tidur seperti biasa saya membaca sebagian perikop Kitab Suci atau Katekismus Gereja Katolik. Entah kenapa saya tertarik untuk mengambil buku YouCat (Youth Catechism) di sebelah tempat tidur saya. Waktu saya buka, langsung terpampang di hadapan saya sebuah halaman yang membahas tentang hidup kekal. “Eternal life begins with Baptism” demikian kalimat yang di-bold, dan selanjutnya tertera penjelasan tentang rahmat Tuhan dan kehidupan kekal yang Ia janjikan. Tapi kata-kata ini saja cukup membuat hati saya terangkat dan dipenuhi rahmat Tuhan yang begitu mengagumkan itu…bahasa Betawi-nya “amazing grace”. Tujuh hari yang lalu, baby Grace dibaptis, dan buat dia (seperti kita semua yang juga sudah dibaptis), dimulai sudah perjalanan menuju kehidupan yang kekal.  Baptisan bukan cuma sekedar ritual agar ada agama di KTP kita, tapi sungguh-sungguh sebuah pengalaman rahmat yang membuka pintu lebar-lebar akan keabadian bersama Tuhan. Paskah menjadi tanda bahwa kekekalan itu sungguh nyata, sebab kematian tidak punya kuasa lagi. Yesus bangkit mengalahkan dosa dan kematian, membuka pintu sorga lebar-lebar bagi semua orang yang telah dibaptis dan memperjuangkan hidupnya dengan penuh iman dan perbuatan kasih. Hai maut, di manakah sengatmu? Santa Teresa Avila mengatakan “Suffering is a great favor. Remember that everything soon comes to an end . . . and take courage. … Pain is never permanent… Truth suffers, but never dies… Think of how our gain is eternal.”

Saya tidak sadar bahwa bersama kutipan dari Youth Catechism itu, Tuhan sedang mempersiapkan jalan bagi baby Grace untuk beralih menuju hidup yang sesungguhnya, yang tidak ada penderitaan dan air mata lagi, yang kekal bersama Dia.

(to be continued)

The Grace of Life, The Glory of Easter II

Yesus memasuki Yerusalem

Siang itu, Lia istri saya, dan saya, memasuki gedung gereja sambil menyanyikan lagu “Yerusalem… Yerusalem, lihatlah RajaMu…” Setelah beberapa minggu menjalani masa pantang dan puasa, hari itu umat Allah mengenang Yesus yang duduk di atas keledai, memasuki kota Yerusalem. Kerumunan orang banyak melambaikan daun palma menyambut kedatangan Mesias ini di kota mereka. Sorak sorai terdengar sepanjang jalan, dan orang-orang berdesakan ingin melihat Anak Manusia ini. Tidak ada yang tahu drama besar yang akan terjadi minggu itu, bahkan para rasulpun tidak tahu. Entah apa yang terbayang di benak Yesus saat itu; sukacita atas umatNya, atau nyeri yang mulai menyelinap terasa di hatiNya karena tahu bahwa waktunya sudah dekat, bahkan sudah sangat dekat. Penderitaan yang Ia beritakan beberapa waktu yang lalu akan segera digenapi. “Sekali-sekali hal itu tidak akan terjadi padaMu” demikian kata Petrus waktu mendengar pemberitahuan Yesus tentang penderitaan yang akan dideritaNya. Atau bagaimana dengan tanggapan ibu anak-anak Zebedeus “Bolehkah kedua anakku ini kelak di kerajaanMu duduk di sebelah kananMu dan di sebelah kiriMu?” Aahh, they are all missing the whole point of Jesus’ suffering. Yang satu menolak penderitaan mulia, yang lain sibuk dengan posisi yang mau mereka kejar. But who can comprehend the mystery and the glory of your suffering Lord?

Seninnya saya mendapat BBM dari Bimo. “Sudah mulai masuk minggu ke-42, malam ini Ninu akan masuk Carolus dan besok pagi caesar”. Bimo telah meminta saya sebelumnya untuk menjadi wali baptis buat Grace Gloria – that’s the baby’s name.

The time has come.

Sore itu saya berusaha menghubungi Rm.Deshi Ramadhani, SJ, untuk mengajaknya datang ke Carolus dan berdoa bersama, tapi ternyata ia sedang berada di Bandungan. Maka malam itu saya menjemput Rm. Nugie, SJ, di rumah Jesuit di Jl. Johar, dan bersama Lia kami mengunjungi Bimo dan Ninu. Malam itu Bimo dan Ninu bermalam di kamar Josef – santo pelindung keluarga. Di kamar itu kami ngobrol-ngobrol, dan kemudian menutup malam dengan doa dan berkat oleh Rm.Nugie.

Besoknya jam 7.30, bersama kedua orang tua Bimo dan Ninu, kami sudah stand by di Carolus untuk  menunggu Ninu menjalani operasi Caesar dan segera sesudahnya membaptis Grace. Setelah menanti sekitar 30 menit di ruang tunggu, pintu Recovery Room dibuka dan kami diijinkan masuk untuk upacara Baptis.

Baby Grace looked so cute berwarna putih kemerahan. Ia terbaring dalam sebuah inkubator dengan bagian kepala yang ditutupi. Dengan penutup kepala ini, orang tidak akan menyadari bahwa ia menderita anenchepaly. Tangisannya terdengar seperti bayi sehat biasa, dan gerakan tangannya yang kecil seperti mau menunjukkan kepada semua orang “It’s ok, I’m fine.” Rm. Nugie memimpin doa ibadat singkat, lalu memasukkan tangannya ke dalam inkubator sambil mengucapkan “Aku membaptis kamu, demi nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus” Setitik air suci direciki di dahi Grace yang kecil, dan kepalanya mengangguk kecil seolah mengucapkan “Amin…”. Di menit-menit yang berharga itu, melalui Sakramen Baptis, baby Grace di-claim menjadi milik Tuhan yang ditebus oleh kematian dan kebangkitan Yesus, serta menjadi anggota terbaru dari keluarga besar Kerajaan Allah. Di ruang sederhana itu didaraskan doa yang sederhana juga, namun punya kekuatan seluruh Sorga yang bersorak-sorai karena satu anak lagi, satu kehidupan lagi diperjuangkan dan dipersembahkan bagi Allah. Glory is His name! (and Glory is her name too – Grace Gloria!)

Hari itu, di FB Bimo tertulis “Hari ini telah lahir Grace Gloria. Seorang anak pejuang kehidupan. Karena berkatNya kami dikuatkan. Dan untuk kemuliaan Tuhan-lah ia hadir.”

Yesus meluangkan waktu dengan murid-muridNya

Pekan Suci adalah minggu tersuci di sepanjang tahun liturgi Gereja. Di minggu ini, semua umat Allah diundang untuk mendekatkan diri kepada Yesus yang memilih untuk menderita demi cintaNya yang besar atas umat manusia kesayanganNya. “…Yesus telah tahu bahwa saatNya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa…”(Yoh 13:1) dan Iapun meluangkan waktu-waktu terakhirNya bersama para rasul. Di sebuah ruang atas (bdk. Mrk 14:15) di Yerusalem, Yesus berpesan “Janganlah gelisah hatimu…” (Yoh 14:1).

“…Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepadaNya. Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepadaKu untuk melakukannya. Oleh sebab itu ya Bapa, permuliakanlah Aku padaMu sendiri dengan kemuliaan yang telah Kumiliki di hadiratMu sebelu dunia ada” (Yoh 17:1-5)

Juga di sebuah ruang atas, Grace dibaringkan di sebuah inkubator, di ruang Goretti. Bagian atas kepala Grace ditutup dengan kasa, dan ia diberi bantuan selang oksigen serta sonde untuk makanan. Sehari-hari kondisinya terlihat cukup stabil, dan keluarga terus mendukung dengan doa yang tak kunjung putus. Kasih seperti ini menampakkan kemuliaan Allah yang hadir dengan sederhana namun begitu kuatnya.

…Bukan untuk dunia Aku berdoa, tapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku,…dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka” (bdk. Yoh 17:9-10).

Beberapa foto dan video clip dikirimkan oleh Bimo untuk memperlihatkan baby Grace yang terus mau berjuang untuk hidup dan meluangkan waktu-waktu berharganya bersama keluarga yang mencintainya. Bila diputarkan lagu anak-anak seperti Twinkle twinkle, ia tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Tapi begitu diperdengarkan lagu Erat Dengan HatiMu, baby Grace memberikan response dengan gerakan-gerakan tertentu. Sepertinya ia tahu benar lirik lagu itu …betapa ajaib dan dahsyatnya Tuhan kejadianku, Kau menenun diriku serupa gambaranMu, sungguh berharga di mataMu Tuhan kehidupanku, Kau membawa hatiku mendekat erat dengan hatiMu… Berapa banyak yang sungguh menyadari ini, atau kita cuma sekedar take it for granted akan hidup kita? Mungkin perlu seorang anencephalic baby untuk mengingatkan betapa hidup kita berharga di mata Tuhan.

Sekali waktu saya sedang di kamar bersama Lia dan Ninu, sementara Bimo sedang Misa di kapel Carolus. Ninu bilang “Bimbim terus ada di dekat Grace karena dia nggak mau kehilangan moment…”

(to be continued)

The Grace of Life, The Glory of Easter I

(dedicated to Bimo, Ninu, and YM4L)

Terpujilah Tuhan! Pekan Suci dan Paskah tahun ini sungguh kaya, karena Allah mengijinkan saya bersentuhan dengan indahnya dan kuatnya anugerah kehidupan. Bukan kebetulan ini terjadi pada waktu yang bersamaan dengan persiapan kami meluncurkan YM4L (Youth Mission 4 Life), sebuah gerakan orang muda untuk membela, mendukung, dan mewartakan anugerah kehidupan. Mujizat memang bisa hadir dengan berbagai wajah, dan kali ini dengan wajah yang sungguh cemerlang bercahaya.

This is the story tentang seorang anak baptis yang mengajarkan wali baptisnya tentang anugerah kehidupan. And it all started a few months ago…

Yesus memberitakan penderitaanNya

Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-muridNya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan…  (Mat 16:21)

Di tengah panasnya Jakarta yang sedang macet gila, BB saya berdering. Bimo, seorang sahabat dan partner kerja saya telpon dan mengajak untuk bertemu “…mau cerita tentang urusan keluarga” katanya. Sekitar 2 jam kemudian, ia dan istrinya – Ninu, duduk di depan saya di McDonald dekat Domus Cordis Center, rumah komunitas kami. Di kehamilan Ninu yang memasuki bulan kelima, mereka baru saja mendapati bahwa bayi mereka menderita anenchepaly (http://www.bayi-anencephaly.info), sebuah kondisi bayi yang mana sesudah dilahirkan biasanya hanya berusia beberapa menit atau paling lama beberapa hari, karena pembentukan otak dan tempurung kepala yang tidak sempurna. Data statistik mengungkapkan bahwa 75% kelahiran seperti ini berakhir dengan kematian langsung bagi sang bayi. Ada kemungkinan kecil sekali bahwa bayi dapat bertahan hidup selama beberapa menit. What should I say? Even my heart cried when I heard the news, apalagi orang tuanya.

Beberapa menit kemudian, kita ngobrol tentang pilihan-pilihan yang mungkin bisa ditempuh. Beberapa pihak mungkin memikirkan kemungkinan aborsi, walaupun dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal. Misalnya bayi ini kan belum lahir, jadi belum hidup, di-aborsi saja tidak apa-apa. Saya pikir, siapa bilang belum ada kehidupan? Memangnya kapan sebenarnya kehidupan itu dimulai? Apakah sehari sebelum kelahiran? Apakah 2 hari sebelum due date bayi dikeluarkan sudah ada kehidupan? Tentu sudah. Bagaimana kalau seminggu sebelum kelahiran? Sudah juga. Lalu bila demikian, kapan tepatnya kehidupan ini mulai? Di usia 8 minggu, janin sudah memiliki organ tubuh yang lengkap. Mungkin 8 minggu kurang 1 hari, saat ada salah satu organnya yang belum sempurna, maka ia belum menjadi sebuah kehidupan manusia. Kalau keutuhan organ menjadi standar, seorang dewasa yang tidak mempunyai tangan juga berarti belum memiliki kehidupan, maka kita “aborsi” saja dia? Atau mungkin kita tidak yakin kapan kehidupan itu mulai? Kalau seseorang ingin meruntuhkan sebuah rumah namun tidak yakin di dalamnya ada orang atau tidak, apakah ia akan tetap meruntuhkannya? Tentu ia akan memastikan dulu, dan apabila ia tidak mendapat kepastian, maka ia tidak akan meruntuhkan rumah itu, karena bagaimanapun juga kemungkinan kehidupan manusia harus mendapatkan prioritas perlindungan.  Maka kalau bicara dari sudut pandang kepastian kehidupan, pendekatan terbaik adalah dengan tidak melakukan termination

Argumen lain yang tidak masuk akal adalah demi kenyamanan ibu. Untuk apa kehamilan diteruskan apabila toh akhirnya bayi ini akan meninggal juga. Di-terminate saja segera, and life goes on. Kalau saudara kita di-vonis kanker oleh dokter dan diprediksi akan meninggal dunia dalam waktu 6 bulan, maka demi kenyamanan keluarganya, kita “aborsi” saja dia segera hari ini, toh nanti 6 bulan lagi juga dia akan meninggal dunia. Memperjuangkan kenyamanan hidup dengan cara membunuh orang lain?

Atau daripada si bayi menderita, kasihan, kita aborsi saja. Dengan kata lain, kalau kita lihat orang tua kita menderita sakit karena usia lanjut, daripada menderita, kita “akhiri” saja penderitaannya dengan suntik mati…? Ah ada-ada saja.

Di tengah penderitaan seorang sahabat yang sakit, kita justru menemani dan mendampingi sebaik dan semampu kita. Kenyataan bahwa kemungkinan hidupnya tinggal 6 bulan bukan alasan untuk menelantarkannya demi alasan apapun, tapi justru kita memanfaatkan kesempatan singkat ini untuk membuat hidupnya semakin kaya, semakin penuh kasih, dan semakin penuh arti.

Maka bayi – mahluk yang lemah dan rapuh justru harus mendapat perlindungan sebaik-baiknya. Seharusnya, rahim ibu adalah tempat yang paling aman di dunia ini, karena di sanalah Allah mempercayakan sebuah anugerah kehidupan, untuk dikasihi, dipelihara, dan dikembangkan hingga berbuah limpah bagi kemuliaanNya.

Abortion is not a choice – in fact, murder is never a choice.

Sore itu, di McDonald kami bertiga menundukkan kepala, memohon rahmat Tuhan untuk menjalani hari-hari ke depan dengan tuntunan Roh Kudus, supaya apapun yang terjadi membawa kemuliaan bagi nama Tuhan. Artinya, hidup dalam rahim yang terus berjalan selama beberapa bulan ke depan bukan saja harus dipertahankan, tapi juga diperjuangkan dengan sepenuh hati. Artinya, hidup setelah kelahiran yang mungkin hanya dalam hitungan menit sekalipun, harus mendapatkan perlindungan sebaik mungkin. Justru waktu-waktu singkat ini adalah kesempatan satu-satunya untuk memberikan perhatian yang paling besar, senyum yang paling tulus, dan kasih yang paling hangat.

Maka seperti Yesus yang mulai memberitakan penderitaan yang akan dijalaniNya, begitu juga Bimo dan Ninu, and the little baby, mulai menjalani pergumulan ini. Mereka mulai berjalan mendekati Salib yang memang tidak pernah mudah untuk dipahami oleh hati kita yang rapuh ini.

Doa sore itu diakhiri dengan memohon penyertaan Bunda segala kehidupan, Bunda Maria.

Hail Mary, full of grace, the Lord is with Thee….

(to be continued)

Cinta Tuhan selalu menang: Adiksi pornografi dan masturbasi

Berkali-kali saya terjatuh dalam dosa yang sama, dan berkali-kali saya harus menanggung rasa kotor dan rasa bersalah yang mendalam. Berkali-kali saya lakukan dosa yang sama, dan berkali-kali saya tertunduk diam di kaki Salib di kamar saya, bergumul apakah saya harus memohon ampun untuk yang ke-seribu kali, atau melangkah meninggalkan Dia karena merasa diri ini tidak layak. Berkali-kali saya tergoda untuk menyerah kalah atas adiksi pornografi dan masturbasi, namun berkali-kali kasih Tuhan lebih kuat memenangkan hati saya – mengampuni, melayakkan, dan memulihkan hidup saya kembali. Tidak, bukan berkali-kali, tapi ratusan kali, ribuan kali. Bahkan belum pernah satu kalipun cinta Tuhan kalah…

Walaupun sejak lahir saya dibaptis secara Katolik, namun saya merasa baru waktu SMA saya mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan Yesus. Saya bertobat atas dosa-dosa saya dan berjanji untuk hidup bagi Tuhan dan bagi Gereja. Sejak pertobatan itu saya merasa Tuhan hadir dalam diri saya secara hidup dan sungguh nyata, dan sejak pertobatan itu saya merasa terpanggil untuk melayani, khususnya di tengah-tengah orang muda. Hidup saya berubah, atau setidaknya kerinduan-kerinduan dalam hati saya berubah.

Perubahan kerinduan hati ternyata bukan berarti berubah menjadi suci dalam waktu satu malam. Hati saya hancur menghadapi kenyataan bahwa ternyata saya masih memiliki dorongan untuk berbuat dosa, khususnya adiksi pornografi dan masturbasi yang telah saya alami selama bertahun-tahun. Hati saya yang terdalam rindu untuk hidup benar dan menyenangkan hati Tuhan, tapi pada kenyataan sehari-hari saya masih saja berdosa. Minggu demi minggu saya bergumul mengharapkan pembebasan, namun minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun, dan saya masih saja merasa terbelenggu oleh dosa ini. Pelayanan jalan terus, dosapun jalan terus. Setiap kali saya habis pelayanan saya merasa terbang bersama Tuhan, lalu segera terpuruk dalam kedosaan yang menyiksa hati saya. Setelah berdoa mohon ampun, perlahan saya merasa lebih baik. Pelayanan lagi, saya merasa lagi-lagi terbang tinggi bersama Tuhan, dan biasanya lagi-lagi terpuruk dalam dosa yang sama. Kadang saat menjadi song leader dalam sebuah persekutuan atau bahkan KRK (Kebangunan Rohani Katolik), saya bergumul di atas panggung, karena saya tahu seberapa kotornya diri saya. Lebih sering lagi saat membawakan firman Tuhan, di tengah-tengahnya saya merasa setiap kata yang saya ucapkan lebih menghujam ke hati saya sendiri daripada menjadi berkat bagi orang-orang muda yang mendengarkan.

Tahun berganti tahun, pelayanan berkembang, pemahaman akan Tuhan bertambah, begitu juga dosa adiksi pornografi dan masturbasi yang menjadi duri dalam daging bagi hidup saya – sampai satu hari. Malam itu saya menjadi seorang penerjemah bagi seorang pembicara yang diundang dari luar negri. Di atas panggung saya berdua dengan dia, dan dia mulai bercerita bagaimana dia dulunya adalah seorang pecandu masturbasi. Sambil menerjemahkan kisahnya, saya merasa seperti sedang menelanjangi diri saya sendiri di depan ratusan sampai ribuan orang. Bayangkan, setiap perasaan pergumulannya adalah sama persis seperti yang saya alami. Ia banyak melayani di orang muda, begitu juga saya. Ia terbelenggu adiksi masturbasi, begitu juga saya. Ia menjadi song leader dan pembicara, begitu juga saya. Ia telah dibebaskan dari adiksinya, namun saya belum.

Lewat renungan yang ia bawakan, malam itu saya belajar dua hal yang sangat penting.

Pertama, kasih Allah selalu sanggup menyembuhkan. Betapapun kotornya dan parahnya kita telah jatuh ke dalam dosa, kasih Allah selalu memiliki daya untuk memenuhi hati kita dan kuasa untuk membebaskan kita dari dosa. Akar dari setiap dosa adalah kurangnya hati kita akan cinta kasih Allah. Setiap hati yang sungguh penuh dengan cinta Tuhan pasti tidak memiliki lagi ruang untuk dosa. Maka hati ini harus terus menerus diisi oleh cinta Tuhan yang tak bersyarat, yang menerima kita apa adanya, yang tidak pernah gagal betapapun kita telah berdosa ribuan kali. Dosa adiksi masturbasi ini sering membuat diri kita merasa tidak berdaya dan seakan tidak ada jalan keluar. Bersama dengan perasaan tidak berdaya ini, kita akan mulai merasa putus asa dalam usaha kita untuk berubah. Ini titik yang penting dalam jalan pembebasan, karena di titik ini kita diundang Allah untuk percaya lebih jauh lagi pada kasihNya. The truth is, ketika kita merasa putus asa terhadap diri kita sendiri, Allah tidak pernah putus asa. We may be tempted to give up on ourselves, but Jesus never gives up on us! Maka kita perlu belajar untuk sabar akan dosa-dosa dan kelemahan diri kita sendiri, sambil terus bergantung pada cintaNya yang tanpa batas.

Kedua, dosa di dalam kegelapan harus selalu dibawa kepada terang. Dalam gelap, dosa semakin berakar dan berkembang, tapi dalam terang, dosa akan kehilangan daya kekuatannya. Artinya, jangan simpan kedosaan kita sendirian dalam gelap. Ceritakan pergumulan dosa ini pada orang yang kita percaya, yang cukup dewasa secara rohani, yang tidak menghakimi kita atas dosa-dosa ini. Semakin kita simpan dalam kegelapan, semakin dosa ini membelenggu hidup kita, namun begitu kita bawa kepada terang kasih Tuhan, perlahan-lahan dosa akan kehilangan daya belenggunya. Ini bisa terwujud lewat meminta teman sejenis (cowok dengan cowok, cewek dengan cewek) untuk menjadi accountability partner – yaitu seorang teman kepercayaan yang kita jadikan tempat bercerita dan mendapat dukungan rohani.  Bisa juga seorang pembimbing rohani, seorang pastor, atau siapapun yang memiliki kapasitas yang baik untuk fungsi ini.

Buat saya, ruang sakramen tobat dan seorang bapa pengakuan adalah tempat untuk membawa dosa ini kepada terang. Saya memilih untuk mulai mempercayakan pergumulan saya ini kepada seorang imam yang menjadi bapa pengakuan saya selama beberapa tahun ke depan. Saya mengaku dosa sebulan sekali, sebulan dua kali, dan bahkan seminggu bisa satu sampai dua kali. Setiap kali saya masuk ruang pengakuan dosa, saya akan mengungkapkan dosa yang sama, dosa yang itu itu lagi. Dan setiap kali imam senior ini akan memberikan nasehat yang menguatkan. Tidak ada penghakiman, tidak ada tuduhan, dan tidak ada pelecehan terhadap kotornya diri ini. Yang ada hanya cinta yang mengalir lewat tangannya yang membuat tanda Salib, dan hati sayapun dibanjiri pengampunan tanpa batas dari Sang Maha Cinta. Katekismus Gereja Katolik mengatakan bahwa rahmat yang kita terima lewat sakramen bergantung pada iman yang menyertai penerimaan sakramen itu. Maka setiap kali saya masuk ruang pengakuan dosa, saya bukan saja mengumpulkan keberanian untuk mengatakan dosa yang sama, tapi juga mengerahkan segala kekuatan iman percaya saya pada cinta dan rahmat yang akan saya terima. Saat imam mengangkat tangannya tanda berkat absolusi, saya serukan dalam hati saya sekuat-kuatnya, bahwa saya mau terima cinta dan rahmat Tuhan seluas-luasnya, sedalam-dalamnya, dan sebanyak-banyaknya – sebanyak yang Tuhan mau berikan buat saya. Lalu mengalirlah dengan derasnya anugerah ilahi seperti banjir di musim hujan, seperti terangnya mentari di musim kemarau, seperti kuatnya belaskasih yang mengalir dari atas kayu Salib.

Waktu berjalan terus, dan musim berganti musim, tapi Tuhan tetap setia. Satu kali saya masuk ruang pengakuan dosa, saya tidak menceritakan dosa pornografi maupun masturbasi, karena kasih Allah mulai  menunjukkan kuasaNya yang membebaskan. Lain waktu, saya menceritakan kejatuhan saya lagi, dan lain waktu lagi saya tidak menceritakan dosa ini. Saat musim semi tiba, tidak semua bunga merekah bersamaan, namun perlahan tapi pasti, tanah yang kering mulai menghijau. Waktu saya mengarahkan hati saya pada Tuhan Yesus, dan bukan pada dosa, hati ini menjadi lebih tenang, dan langkah kaki menjadi lebih kuat. Tanpa sadar, musim semi yang baru telah tiba. Saya tidak lagi menceritakan dosa-dosa pornografi dan masturbasi di ruang pengakuan dosa, sebab kasih Allah telah membebaskan saya. Terpujilah Tuhan, kasihNya selalu menang!

Melihat ke belakang, ada beberapa hal yang saya kagumi dari cara kerja Tuhan. Kalau sekarang saya ditanya tentang kesan Tuhan apa yang paling kuat tergores di hati saya, maka tanpa berpikir dua kali, saya akan segera menjawab: cinta Tuhan! My goodness, His love is so strong, so gentle, and so faithful. At the end of the day, hanya cinta ini yang sanggup memuaskan hati kita.

Pornografi dan masturbasi adalah tipuan belaka. Banyak orang berpikir bahwa pornografi dan masturbasi membawa kepuasan dalam hidup kita. Ini jelas-jelas bohong. Tuhan menciptakan seks untuk lelaki dan perempuan mengungkapkan cinta mereka lewat pemberian diri secara bebas, total, setia, dan berbuah. Kita menyebut ungkapan ini “pernikahan suci”. Problem terbesar dari pornografi dan masturbasi ini adalah bukan karena fenomena ini memperlihatkan tubuh manusia terlalu banyak, tapi justru terlalu sempit dan sedikit. Bayangkan, manusia yang sesungguhnya punya harkat dan martabat yang agung sesuai citra Allah, dipandang hanya sebagai bagian-bagian tubuh untuk dinikmati sebagai obyek kepuasan semu. Seorang penikmat materi pornografi adalah selalu seseorang yang sebetulnya rindu akan cinta Tuhan, namun seringkali ia tidak sadar akan hal itu. Ia pikir kebutuhannya akan kepuasan seks adalah kebutuhan fisik belaka, yang akan terpuaskan apabila dilampiaskan lewat masturbasi. Tanpa ia sadari, ia sebetulnya mencari sesuatu yang bisa memberikannya makna dan kepuasan/keutuhan sejati. Waktu ia menemukan pornografi, ia pikir inilah jawabannya. Maka iapun kemudian biasanya melakukan masturbasi sebagai pelampiasan yang memberikan kepuasan. Padahal, banyak orang mengalami kehampaan dalam hatinya setelah ia melakukan masturbasi. Beberapa waktu kemudian, saat ia sedang letih atau mengalami tekanan, ia kembali lagi mencari materi-materi pornografi yang kembali membawanya pada masturbasi. Tanpa ia sadari, ia terjebak dalam pola pemenuhan kepuasan yang semu ini, dan lebih parahnya ia mulai tidak bisa lepas dari kebiasaan masturbasi. Sedemikian melekatnya kebiasaan ini sampai terkadang membayangkan materi pornografi dan membayangkan akan melakukan masturbasi saja sudah menumbuhkan rasa nyaman tertentu. Apakah ini yang ia cari sebetulnya? Apakah yang ia cari adalah kepuasan sesaat yang kemudian membuat ia terikat dan tidak bisa lepas? Yang awalnya ia pikir tidak apa-apa karena tidak merugikan orang lain, sekarang telah menjadi adiksi. Yang awalnya ia pikir adalah kebebasan pribadi untuk memenuhi kebutuhannya, sekarang menjadi rantai yang membelenggu hidupnya. Kalau kita sampai tidak berdaya untuk berkata “tidak”, apanya yang bebas? Selamat datang di dunia tipuan pornografi dan masturbasi.

Kerugian terbesar memang tidak terletak pada orang lain, tapi pada diri sendiri sebagai penikmat obyek pornografi. Hari ini saya prihatin melihat orang yang terbelenggu pornografi dan masturbasi, bukan karena mereka buruk, tapi justru karena saya tahu pasti bahwa sebetulnya mereka jauh lebih baik, lebih mulia, dan lebih agung daripada apa yang mereka hidupi hari ini. Setidaknya ada 3 (tiga) hal yang menjadikan pornografi dan masturbasi sebagai perusak hidup kita:

Satu, pornografi dan masturbasi melucuti manusia dari kemampuannya untuk mewujudkan cinta sejati. Cinta sejati tidak pernah menggunakan tubuh yang lainnya sebagai sarana pemuasan diri, tapi cinta sejati selalu rela berkurban bagi kebaikan sesama. Tubuh tidak pernah terlepas dari pribadi yang memiliki tubuh itu. Pemanfaatan tubuh seseorang untuk kepuasan seksualku berarti sama saja mengatakan “Kamu itu bukan pribadi yang utuh yang aku hormati. Kamu itu cuma barang yang aku pakai sebagai sarana pemuasan nafsu seks-ku”. Para penikmat pornografi memiliki kecenderungan untuk memandang orang lain sebagai bagian-bagian tubuh saja. Kalau bagian tubuh tertentu memiliki daya untuk memberikan rangsangan yang bisa dinikmati, maka orang itu disebut seksi. Perlahan-lahan hormat dan penghargaan bagi sesama tidak lagi diberikan karena ia memiliki harkat dan martabat manusia, tapi karena ia memiliki bagian tubuh tertentu yang layak dinikmati. Cara pandang seperti ini jelas menjadikan seseorang dangkal dalam memahami pribadi orang lain. Akibatnya ia semakin terkurung dalam kedangkalan dirinya sendiri, padahal ia sebetulnya diciptakan dengan kemampuan besar untuk mencintai seperti Tuhan mencintai – hanya saja ia terjerat tipuan pornografi dan masturbasi. Bicara tentang lelaki misalnya, jelas seorang lelaki sejati adalah seseorang yang mampu berpegang pada kebenaran serta berani berkurban demi cinta bagi kebaikan sesama. Lelaki yang menggunakan tubuh perempuan untuk kepuasan dirinya sendiri pastinya jauh dari konsep ideal lelaki sejati. Padahal, dengan kekuatan cinta Tuhan, ia sebetulnya mampu menjadi lelaki sejati.

Dua, pornografi dan masturbasi merusak otak manusia. Kebanyakan orang tidak tahu bahwa adiksi pornografi merusak sel-sel otak manusia. Satu hal lagi yang perlu kita sadari: kerusakan sel-sel otak yang diakibatkan oleh adiksi pornografi lebih parah daripada kerusakan sel-sel otak yang diakibatkan oleh adiksi narkoba. Mau terus tinggal dalam adiksi pornografi? Siap-siap saja mengalami kerusakan otak.

Tiga, pornografi dan masturbasi adalah penghancur kehidupan pernikahan. Setiap orang yang menikmati materi-materi pornografi semakin lama akan semakin membutuhkan pilihan rangsangan yang lebih luas dan tingkat rangsangan yang lebih tinggi. Untuk itu ia mencari berbagai materi/gambar/film yang memberikan tingkat kepuasan yang terus meningkat. Yang tadinya melihat 10 gambar, sekarang jadi melihat 100 gambar. Yang tadinya butuh 30 detik untuk menikmati 1 gambar, sekarang jadi 5 detik per gambar. Akibatnya otaknya terbiasa untuk menikmati kepuasan rangsangan dengan cepat dan berganti-ganti terus. Satu hari, ia menikah dengan seorang istri yang sungguh cantik. Tapi karena ia sudah terbiasa dengan puluhan atau ratusan gambar perempuan cantik dalam hitungan menit (yang juga polesan photoshop – this is another story), maka waktu ia melihat tubuh istrinya, apa yang terjadi? Karena mekanisme rangsangan di otaknya telah membentuk pola tertentu, maka dalam waktu beberapa saat ia segera membutuhkan tubuh orang lain lagi untuk ia nikmati. Seberapapun cantiknya dan baiknya istrinya, ia tidak akan pernah puas. Tidak heran kalau menurut data statistik, orang-orang yang adiksi pornografi memiliki tingkat perceraian yang tinggi.

Ada banyak cerita kehancuran orang-orang yang terbelenggu adiksi pornografi. Dalam usaha mencari arti hidup dan keutuhan yang sejati, banyak korban berjatuhan akibat jerat tipuan ini. Mereka adalah orang-orang yang baik, orang-orang yang seringkali kita jumpai di kantor-kantor dan bekerja dengan tanggungjawab, dan bahkan orang-orang yang berdiri di mimbar untuk memberitakan Kabar Gembira. Mereka seperti perempuan Samaria yang menimba air di sumur saat teriknya matahari.

Kabar Gembira yang sesungguhnya adalah, di siang itu, ada seorang lelaki yang juga duduk di pinggir sumur, menawarkan air kehidupan. Barangsiapa minum air ini, ia tidak akan haus lagi. Di tengah-tengah pencarian akan pemuas dahaga kehidupan, ada pribadi yang menawarkan pemuasan sejati – air kehidupan – cinta Tuhan yang tanpa syarat. Pribadi ini sanggup untuk menerima semua dosa-dosa, luka-luka, dan bahkan kehancuran hidup setiap manusia, sebab di HatiNya ada banyak ruangan untuk kita beristirahat dan menikmati keutuhan sejati. Seluruh sejarah dan semua manusia diundang untuk bermuara di Hati ini. Di sini kita bisa berlabuh setelah pencarian panjang yang meletihkan dan bahkan melukai jiwa kita. Di HatiNya ada air kehidupan yang sanggup menyembuhkan hati kita. Di HatiNya ada tempat buat kita semua. Siapapun yang menerima cinta Tuhan, ia akan disembuhkan, dipulihkan, dan dipuaskan. Saya tahu ini dengan pasti, sebab saya telah menempuh perjalanan ini, dan menemukan Allah yang dengan setia telah berjuang memenangkan hati saya. Luar biasa rasanya mengenal Allah yang tidak pernah putus asa atas kerapuhan saya. Hidup ini menjadi berarti bukan karena apa yang saya lakukan, tapi karena apa yang Dia telah lakukan buat saya, dan apa yang akan Dia lakukan esok hari. I can’t wait to be surprised by God everyday. He is good, and His name is Jesus.

Jangan berhenti pada pornografi dan masturbasi yang hanya menawarkan kepuasan semu dan kehancuran. Mari berjalan terus dan lebih jauh lagi ke Hati Tuhan Yesus untuk menemukan makna hidup dan kepenuhan yang sejati. Mari rayakan kelelakian dan keperempuanan yang sesungguhnya, mari raih hidup yang penuh arti, mari temukan kekuatan cinta yang membebaskan kita untuk meraih mimpi-mimpi besar.

Kita semua diciptakan untuk sebuah keluhuran, keagungan, dan kebesaran kasih Allah. Ada mimpi-mimpi besar yang Tuhan tanamkan dalam hati banyak orang, mimpi akan dunia yang lebih baik, mimpi untuk diwujudkan oleh lelaki dan perempuan yang percaya bahwa cinta Tuhan lebih besar daripada kerapuhan diri mereka.

Nama saya Riko Ariefano. Saya pernah mengalami adiksi pornografi dan masturbasi selama belasan tahun, tapi Tuhan telah membebaskan saya, sebab kasihNya selalu menang!

Joyful Self-Giving

Some 10 days ago, my big family – Domus Cordis (DC), just had our retreat on Theology Of the Body. The retreat was entitled Destination Confirmed, and was attended by some 50 participants and around 20 DC members.

Result? Amazing, wonderful, glorious, the atmosphere was filled with God’s blessing.

A week after, which is a few days ago, DC had a gathering to follow up the retreat participants. It was held at one of our Mission Partner’s house (Petrus). We had a big big dinner and nice sharing of people’s experience.

Result? Awesome, marvelous, joyful, and inspiring!

But the best thing that God did among us throughout the 2 events, for me – it was not the annointed worship (The worship was great, but it was not the one that impressed me). It was not the food (The food was awesone and mightily abundant, but it was not the one that impressed me). It was also not the tears of repentance (God indeed touched people’s heart beautifully, but this time it was not the one that impressed me).

The thing that impressed me most this time was… the giving attitude of DC members!

Throughout the retreat and the follow up dinner, I saw God moved in very special ways through the DC team. I have been seeing and working with many teams in all my 17 years of ministries, but this team is really awesome! Everybody worked and contributed much without any grudge! This “grudelessness” is not only accompanied by happy attitude, but it was also supported by great dedication and hard work. People worked and contributed as much as they could, without “calculating” personal “loss and benefit”. People give of their time and talents unconditionally.

Toni – who led the retreat preparation, made a decision of faith to conduct the Crucifix Adoration outdoor, while it was a rainy season. That night not even a single drop of water fell from the sky. His prayer and faith made it possible for us to worship Jesus beautifully. He shared with us an awesome gift of faith.

Avi and Tasia, who led the follow-up-dinner preparation, in such a short time managed to coordinate succesfully and come up with super abundant food. And everybody was working, serving, and eating happily!

This kind of attitude only comes from the hearts that are full of God’s love. Only people overflowed with God’s love are able to share this love through service. From the abundance of the hearts shall flow the abundance of God’s love to others.

God is The Greatest Giver! He gives of His time, His love, His compassion, His ability, His attention, and even His Own Body, so that we understand what it means to love in humble service to one another. This is the miracle of love: the miracle of joyful self-giving in service for others. 

After all, love is always about being a gift for others!

Prayer of Padre Pio after Communion

2 weeks ago Elyse shared with me a song on the prayer of Padre Pio after Communion – one of my favourite Saint. I never really put much attention into it until today.

And today as I read the prayer and listened to the song, I couldn’t help but shed tears as the prayer articulates the longing of my heart very precisely.

Thanks to Elyse for sharing the prayer.

Prayer of Padre Pio after Communion
Padre Pio

Stay with me, Lord, for it is necessary to have You present so that I do not forget You. You know how easily I abandon You.

Stay with me, Lord, because I am weak and I need Your strength, that I may not fall so often.

Stay with me, Lord, for You are my life, and without You, I am without fervor.

Stay with me, Lord, for You are my light, and without You, I am in darkness.

Stay with me, Lord, to show me Your will.

Stay with me, Lord, so that I hear Your voice and follow You.

Stay with me, Lord, for I desire to love You very much, and always be in Your company.

Stay with me, Lord, if You wish me to be faithful to You.

Stay with me, Lord, for as poor as my soul is, I wish it to be a place of consolation for You, a nest of Love.

Stay with me, Jesus, for it is getting late and the day is coming to a close, and life passes, death, judgement, eternity approaches. It is necessary to renew my strength, so that I will not stop along the way and for that, I need You. It is getting late and death approaches. I fear the darkness, the temptations, the dryness, the cross, the sorrows. O how I need You, my Jesus, in this night of exile!

Stay with me tonight, Jesus, in life with all its dangers, I need You.

Let me recognize You as Your disciples did at the breaking of bread, so that the Eucharistic Communion be the light which disperses the darkness, the force which sustains me, the unique joy of my heart.

Stay with me, Lord, because at the hour of my death, I want to remain united to You, if not by Communion, at least by grace and love.

Stay with me, Jesus, I do not ask for divine consolation, because I do not merit it, but, the gift of Your Presence, oh yes, I ask this of You!

Stay with me, Lord, for it is You alone I look for. Your Love, Your Grace, Your Will, Your Heart, Your Spirit, because I love You and ask no other reward but to love You more and more.

With a firm love, I will love You with all my heart while on earth and continue to love You perfectly during all eternity.

Amen