The poor enters heaven first?

Beberapa bulan yang lalu, gue lagi duduk di Cinnabon, Plaza Indonesia – as usual with a cup of coffee. Sepanjang jalan menuju ATM, dan jalan menuju ke Cinnabon, gue ngeliat toko-toko, resto, and café yang sangat menarik buat dikunjungi.

Tiba-tiba aja terlintas pikiran di benak gue. Segini banyak kenyamanan dibangun dan di-sediakan bagi orang-orang yang punya uang. Segini banyak kemampuan, usaha, dan waktu  diluangkan untuk menciptakan suasana yang mendukung life style para kalangan ekonomi atas. Now the question is: ada berapa banyak sih orang-orang yang punya kemampuan buat belanja di sini, dibandingkan dengan yang ngga punya kemampuan itu? Ada berapa banyak sih orang yang punya uang buat menikmati semua ini, dibandingkan dengan mereka yang ngga punya? Kalo kita pergi ke mall-mall prestigious hari Minggu, rasanya penuh banget sampe cari parkir aja bisa lebih dari setengah jam. Tapi penuhnya tempat parkir ini apa bener-bener reflect people’s buying power? Atau sebagian besar cuma jalan-jalan cari udara sejuk? Pikiran gue melayang ke sekian banyak orang yang berjuang setiap hari untuk cari uang sekedar untuk menutupi biaya hidup bulanan. Pikiran gue melayang ke panti asuhan anak-anak yang gue en komunitas gue – Domus Cordis – kunjungin beberapa bulan lalu, yang anak-anaknya begitu girangnya saat kita dateng untuk sekedar doa dan nyanyi bersama.

 

Kata para economist kita sedang berada di ambang krisis moneter dan bahkan krisis pangan dunia. Di mailing list alumni sekolah gue dulu – CC91, sedang banyak diskusi tentang ekonomi Indonesia yang sepertinya ada di gerbang krisis – walaupun mudah-mudahan gak separah krisis moneter tahun 97 yang lalu. USD telah ter-depresiasi terhadap EUR hampir 50% dalam waktu yang relative singkat, dan harga minyak dunia menanjak terus, sehingga rasanya hampir tiap minggu ada rekor harga tertinggi yang baru.

 

Koran Kompas beberapa waktu yang lalu bicara tentang seruan APINDO (Asosiasi Pengusaha Indonesia) supaya perusahaan-perusahaan jangan melakukan PHK. Entah ini seruan serius atau pengumuman terselubung bahwa akan ada PHK besar-besaran. Departemen Keuangan juga sudah menyiapkan 86 skenario harga berkaitan dengan harga BBM yang katanya pasti naik.

 

Wajah-wajah orang miskin yang sering gue jumpai di perempatan lampu merah melintas di pikiran gue. Jangankan mereka yang meminta-minta di jalanan, wajah beberapa orang kenalan gue pun mulai terbersit di benak gue. Ada yang bergumul dengan uang sekolah anak-anak mereka, ada yang setiap hari bekerja banting tulang hanya untuk mencukupi biaya makan dan sedikit sisa untuk beli vitamin bulanan. Seorang Romo pernah cerita, di suatu daerah di Indonesia, waktu uang sekolah bulanan naik dari Rp.2000 ke Rp.3000, setengah murid-murid sekolah langsung drop out. Kira-kira sebulan yang lalu, TV dan Koran sempat memberitakan seorang ibu yang rela membunuh anak-anaknya – bukan karena benci, tapi justru karena takut anak-anaknya nanti harus menderita kemiskinan.

 

As I am writing now, my heart cries with them. Tapi nangisnya hati gue ngga ada artinya dibandingkan dengan pergumulan dan penderitaan yang mereka harus hadapi dan jalani setiap hari.

 

Kemiskinan ini bukan cuma uang. Waktu financially mereka miskin, mereka akan mengalami kemiskinan-kemiskinan lainnya – misalnya kesehatan, pendidikan – atau bahkan yang sering terjadi adalah keadilan dan kemanusiaan. Bukankah kebanyakan fasilitas dibangun untuk orang-orang yang punya uang? Bukankah sarana kesehatan yang terbaik disediakan buat mereka yang punya uang? Bukankah yang gak punya uang kurang punya kesempatan untuk membela hak-hak dan martabat mereka?

 

Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.

(Mat 25:40)

 

Atau jangan-jangan kita termasuk dalam pembuat-pembuat atau pendukung sistem yang mengorbankan kaum miskin dan tak berdaya di sekitar kita – lewat gaya hidup kita, lewat komentar-komentar kita sehari-hari, lewat pemborosan uang kita, lewat ketidakmau-tahuan kita, atau lewat bungkamnya mulut kita karena cari aman, atau karena kita sendiri juga menikmati sistem ini?

 

Berbahagialah orang-orang yang miskin di hadapan Allah,

Karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

 

Berbahagialah orang yang berdukacita,

Karena mereka akan dihibur.

 

Berbahagialah orang yang lemah lembut,

Karena mereka akan memiliki bumi.

 

Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran,

Karena mereka akan dipuaskan.

 

Berbahagialah orang yang murah hatinya,

Karena mereka akan beroleh kemurahan.

 

Berbahagialah orang yang suci hatinya,

Karena mereka akan melihat Allah.

 

Berbahagialah orang yang membawa damai,

Karena mereka akan disebut anak-anak Allah.

 

Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran,

Karena merekalah yang empunya kerajaan Sorga

 

Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya, dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat,

Bersukacitalah dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga,

Sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.

(Mat 5:1-12)

               

Atau jangan-jangan, saudara-saudara para orang miskin yang kita temui setiap hari ini – mereka akan mendahului kita masuk ke dalam kerajaan Allah… karena merekalah yang empunya kerajaan sorga?

 

Kita semua dipanggil untuk menjadi terang dan garam bagi sekitar kita. Orang-orang miskin adalah Yesus yang sedang menyamar, supaya kita semua belajar lebih peka dan lebih peduli dengan sesama kita. Semoga kita semakin mengasihi dan semakin mengusahakan kesejahteraan bersama.

 

At least I have to start from myself. Yup, dari diri gue sendiri.

 

(my humble request to all: please pray for me)

                                

Advertisements

7 thoughts on “The poor enters heaven first?

  1. Wah, ternyata produktif sekali nulisnya, salut salut.

    Saya akan merasa begitu miskin, kere dan papa ketika saya sudah tidak lagi mempunya iman, harapan dan kasih. Tanpa iman, hidup ini tak lebih dari kehidupan yang kodrati badaniah, yang akan berakhir begitu saja. Tanpa harapan, rasanya akan seperti berada dalam sumur yang duaalam dan guelap, tinggal menunggu masa. Dan tanpa kasih, betapa akan terasa hambar dan carut marut.

    Sementara, bangsa tercinta ini tengah berada di tengah anomali yang begitu akut di hampir segala bidang. Sistem pemerintahan yang belum juga mapan, penegakan hukum yang berpihak, konsep perekonomian yang ambigu, pengambilan kebijakan yang cenderung selalu parsial, dst. Sementara banalitas korupsi dan penindasan kaum marginal dalam berbagai bentuk sedemikan berakarnya sampai-sampai banyak yang tak terasa terikut dalam pusarannya. La gimana? untuk menjadi pengemis atau pengamen di kawasan tertentu saja orang harus membayar upeti.

    Saya sedih. Dan saya tahu kesedihan sama sekali tidaklah cukup. Di dalam kepala ini, sudah ada beberapa rencana yang terus diupayakan implementasinya. Tapi, rencana manusia apalah bagusnya. So, mohon doanya juga. sehingga saya yg bukan siapa-siapa ini boleh dilayakkan untuk sedikit ikut dalam usaha pembebasan dari kemiskinan, entah apapun itu bentuknya.

  2. Thank you Sdr. Leniniues buat komentar2nya… Pengalaman dan pandangan anda sangat memperkaya dan menambah wawasan buat tulisan ini.

    Jangan sungkan2 dan bosan memberi komentar ya.

    May His love and wisdom be with you always.

  3. Rik…setuju and…sekarang gua lagi merenung yang sama.

    Pikir2…kita kalo mau kaya raya di dunia ini juga nggak enak…

    iyah, nggak enak…karena sedih atau nggak complete hati kita kalo kita kenyang tapi saudara kita lapar…

    Kita bersyukur kalo kita boleh masih punya banyak option…kalo panas..nyalain AC,
    kalo nggak ada sayur dirumah..pergi ke restaurant…
    what about our brothers ans sisters yang nggak ada option….?

    panas…mereka bertahan…
    nggak ada sayur…mereka puasa…

    kadang ini yang mengiris hati gua….
    makanya hidup lebih senang kalo kita berbagi…

    God Bless you and Family!

    In His Love,

    Ernest Basarah

  4. Hai ko Riko.. be blessing dengan tulisanmu ini..

    sementara terkadang kita aja ngerasa susah buat nyari uang untuk hidup sendiri… tapi di bagian lain dari dunia ini masih ada banyak orang yang lebih susah dan lebih menderita lagi ketimbang kita…

    mengajarkan aku satu hal lagi buat selalu bersyukur dengan segala hal yang sudah di dapatkan sampai dengan hari ini…. bersyukur untuk apa yang sudah diberikan oleh Tuhan sampai hari ini…

    semoga kita bisa selalu bersyukur dan membagikan berkat buat saudara-saudara kita yang kekurangan di sekeliling kita.

    God Bless,
    Ricca

  5. hi riko

    aku setiap kali bertanya dalam hati ketika aku membaca ini:

    Berbahagialah orang-orang yang miskin di hadapan Allah,

    Karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

    aku hanya bingung.. yg dimaksud Tuhan bukan miskin secara duniawi kan yaitu krn uang? tapi miskin di hadapanNya yaitu kita menjadi rendah hati dan butuh pertolongan dari Tuhan

    cmiiw sama2 sedang belajar hehe

  6. Yup..setuju banget bro.

    Miskin di hadapan Tuhan adalah kesadaran penuh bahwa kita ini manusia lemah yang selalu bergantung pada kerahimanNya setiap saat.

    Cuma seringkali orang yang miskin uang itulah yang haus akan kebenaran, yang dicela dan jadi korban ketidakadilan, karena mereka kurang mampu berjuang – hari gini perjuangan juga perlu uang…:-)

  7. gw iseng2 mampir di blog elo ini, Rik.. Mungkin tulisan elo dah cukup lama ya, baru gw komen sekarang. Gpp ya, Rik. Bagus banget, a very deep reflection indeed. Gw jg belajar banyak dari tulisan elo ini… Dan somehow, dari tulisan-tulisan elo, gw merasa kangen dengan komunitas. Something yang udah lama gak ada di hidup gw dengan segala perubahan yang tengah gw alami. GBU n your ministries, bro! Tk care and I’m sure God will bless you more and more. Amen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s