Freedom & Independence

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan adalah hak segala bangsa, oleh sebab itu penjajahan di muka bumi harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan… “(Can you imagine my friends Toni Balle and ChenHhh still remember the full version of it!!)

Hmmm… udah lama banget gue ngga ikut upacara bendera. Terakhir kayaknya around 15 years ago. Gosh…I feel old.

Last weekend was the National Independence Holiday and I went to the first DC retreat. It was simple and awesome. Fr.Deshi gave the retreat, and for me personally it was one of the best retreats I’ve ever had. Praise God. He talked about the love of Christ that invites us to rise up (free ourselves from negative attachments), take up our mat (take responsibility), and walk the life He wants (reflect and give thanks). During the retreat we watched a short clip from The Passion of Christ to remind us the meaning of The Cross and how great His love is to us.

It was not a coincidence that the retreat was held during the Independence Holiday. I believe The Spirit is inviting us all to see the higher, deeper, and wider meaning of freedom and independence. For it is only through the love of Christ embodied on The Cross of Calvary that we can experience genuine freedom and true independence.

It was Jesus who is the True Liberator. When we are truly liberated by His love, we become truly free to be fully human – just like Him.

So thank God for Indonesia’s independence, and hallellujah for The Cross of Christ’s Glorious Love!

“Ayo maju..maju.. Ayo maju..maju.. Ayo majuuuu..maju”

Advertisements

The poor enters heaven first?

Beberapa bulan yang lalu, gue lagi duduk di Cinnabon, Plaza Indonesia – as usual with a cup of coffee. Sepanjang jalan menuju ATM, dan jalan menuju ke Cinnabon, gue ngeliat toko-toko, resto, and café yang sangat menarik buat dikunjungi.

Tiba-tiba aja terlintas pikiran di benak gue. Segini banyak kenyamanan dibangun dan di-sediakan bagi orang-orang yang punya uang. Segini banyak kemampuan, usaha, dan waktu  diluangkan untuk menciptakan suasana yang mendukung life style para kalangan ekonomi atas. Now the question is: ada berapa banyak sih orang-orang yang punya kemampuan buat belanja di sini, dibandingkan dengan yang ngga punya kemampuan itu? Ada berapa banyak sih orang yang punya uang buat menikmati semua ini, dibandingkan dengan mereka yang ngga punya? Kalo kita pergi ke mall-mall prestigious hari Minggu, rasanya penuh banget sampe cari parkir aja bisa lebih dari setengah jam. Tapi penuhnya tempat parkir ini apa bener-bener reflect people’s buying power? Atau sebagian besar cuma jalan-jalan cari udara sejuk? Pikiran gue melayang ke sekian banyak orang yang berjuang setiap hari untuk cari uang sekedar untuk menutupi biaya hidup bulanan. Pikiran gue melayang ke panti asuhan anak-anak yang gue en komunitas gue – Domus Cordis – kunjungin beberapa bulan lalu, yang anak-anaknya begitu girangnya saat kita dateng untuk sekedar doa dan nyanyi bersama.

 

Kata para economist kita sedang berada di ambang krisis moneter dan bahkan krisis pangan dunia. Di mailing list alumni sekolah gue dulu – CC91, sedang banyak diskusi tentang ekonomi Indonesia yang sepertinya ada di gerbang krisis – walaupun mudah-mudahan gak separah krisis moneter tahun 97 yang lalu. USD telah ter-depresiasi terhadap EUR hampir 50% dalam waktu yang relative singkat, dan harga minyak dunia menanjak terus, sehingga rasanya hampir tiap minggu ada rekor harga tertinggi yang baru.

 

Koran Kompas beberapa waktu yang lalu bicara tentang seruan APINDO (Asosiasi Pengusaha Indonesia) supaya perusahaan-perusahaan jangan melakukan PHK. Entah ini seruan serius atau pengumuman terselubung bahwa akan ada PHK besar-besaran. Departemen Keuangan juga sudah menyiapkan 86 skenario harga berkaitan dengan harga BBM yang katanya pasti naik.

 

Wajah-wajah orang miskin yang sering gue jumpai di perempatan lampu merah melintas di pikiran gue. Jangankan mereka yang meminta-minta di jalanan, wajah beberapa orang kenalan gue pun mulai terbersit di benak gue. Ada yang bergumul dengan uang sekolah anak-anak mereka, ada yang setiap hari bekerja banting tulang hanya untuk mencukupi biaya makan dan sedikit sisa untuk beli vitamin bulanan. Seorang Romo pernah cerita, di suatu daerah di Indonesia, waktu uang sekolah bulanan naik dari Rp.2000 ke Rp.3000, setengah murid-murid sekolah langsung drop out. Kira-kira sebulan yang lalu, TV dan Koran sempat memberitakan seorang ibu yang rela membunuh anak-anaknya – bukan karena benci, tapi justru karena takut anak-anaknya nanti harus menderita kemiskinan.

 

As I am writing now, my heart cries with them. Tapi nangisnya hati gue ngga ada artinya dibandingkan dengan pergumulan dan penderitaan yang mereka harus hadapi dan jalani setiap hari.

 

Kemiskinan ini bukan cuma uang. Waktu financially mereka miskin, mereka akan mengalami kemiskinan-kemiskinan lainnya – misalnya kesehatan, pendidikan – atau bahkan yang sering terjadi adalah keadilan dan kemanusiaan. Bukankah kebanyakan fasilitas dibangun untuk orang-orang yang punya uang? Bukankah sarana kesehatan yang terbaik disediakan buat mereka yang punya uang? Bukankah yang gak punya uang kurang punya kesempatan untuk membela hak-hak dan martabat mereka?

 

Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.

(Mat 25:40)

 

Atau jangan-jangan kita termasuk dalam pembuat-pembuat atau pendukung sistem yang mengorbankan kaum miskin dan tak berdaya di sekitar kita – lewat gaya hidup kita, lewat komentar-komentar kita sehari-hari, lewat pemborosan uang kita, lewat ketidakmau-tahuan kita, atau lewat bungkamnya mulut kita karena cari aman, atau karena kita sendiri juga menikmati sistem ini?

 

Berbahagialah orang-orang yang miskin di hadapan Allah,

Karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

 

Berbahagialah orang yang berdukacita,

Karena mereka akan dihibur.

 

Berbahagialah orang yang lemah lembut,

Karena mereka akan memiliki bumi.

 

Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran,

Karena mereka akan dipuaskan.

 

Berbahagialah orang yang murah hatinya,

Karena mereka akan beroleh kemurahan.

 

Berbahagialah orang yang suci hatinya,

Karena mereka akan melihat Allah.

 

Berbahagialah orang yang membawa damai,

Karena mereka akan disebut anak-anak Allah.

 

Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran,

Karena merekalah yang empunya kerajaan Sorga

 

Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya, dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat,

Bersukacitalah dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga,

Sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.

(Mat 5:1-12)

               

Atau jangan-jangan, saudara-saudara para orang miskin yang kita temui setiap hari ini – mereka akan mendahului kita masuk ke dalam kerajaan Allah… karena merekalah yang empunya kerajaan sorga?

 

Kita semua dipanggil untuk menjadi terang dan garam bagi sekitar kita. Orang-orang miskin adalah Yesus yang sedang menyamar, supaya kita semua belajar lebih peka dan lebih peduli dengan sesama kita. Semoga kita semakin mengasihi dan semakin mengusahakan kesejahteraan bersama.

 

At least I have to start from myself. Yup, dari diri gue sendiri.

 

(my humble request to all: please pray for me)

                                

Wealth from God – Wealth for God

Beberapa tahun yang lalu, gue punya ketakutan yang buat beberapa orang lain sounds ridiculous. Simply said – gue takut kaya. Yup, gue takut jadi orang kaya. For some reason, gue selalu percaya bahwa Tuhan akan memberkati hidup gue, tapi gue takut akan berkat-berkat itu.

Why?

Dalam hidup gue, gue banyak ngelihat orang-orang kaya yang hidupnya sepertinya sangat jauh dari Tuhan. Gue banyak ngelihat orang-orang  yang – kadang gak usah terlalu kaya, tapi dengan “punya” harta dalam jumlah tertentu aja udah memperlihatkan attitude yang bikin gue gak napsu banget buat jadi seperti mereka. And many of them are close-related people around me. Baru punya ngga seberapa aja kelakuannya udah sangat gak sensitive terhadap orang-orang yang “kurang beruntung”  dibandingkan mereka. Gue percaya bahwa the real life test bukan pada saat mereka ngga berdaya dan ngga punya apa-apa, tapi justru waktu mereka udah punya uang banyak dan power besar dalam hidup mereka. Waktu mereka ngga punya apa-apa, mereka ngga bisa berbuat banyak. Tapi waktu mereka sudah punya banyak dalam hidup mereka, what they do with their wealth and power shows their quality. Dan jujurnya melihat hidup mereka banyak mengecewakan gue.

Hal kedua yang bikin gue takut jadi orang kaya, adalah karena melihat anak-anak mereka. Oh my God, yang ini bener-bener bikin gue ngerasa sedih. Banyak dari para senior kita yang kaya karena mereka kerja keras dan benar-benar tough menghadapi kehidupan. Tapi look at their children. Ini sedikit complain, itu sedikit ngomel. Mereka sangat dibelenggu oleh comfort zone yang memanjakan hidup mereka, sehingga mereka ngga lagi tough seperti orang tua mereka yang banting tulang dari sejak sangat muda, sampai sekarang jadi orang kaya yang strong and punya prinsip kuat. Gimana mereka bisa jadi orang yang peka terhadap sesama kalo mereka ngga pernah ngerasain hidup susah. Well, ngga usah hidup susah kali ya, tapi at least berhubungan sama orang-orang yang miskin dan menderita aja seringkali ngga mau. Iya sih banyak dari mereka yang complain ini itu dan bilang hidupnya susah, tapi complain-nya bukan karena ngga bisa makan, tapi karena laptop-nya rusak, atau karena ngga dapet tiket buat jalan-jalan ke Europe. Hmm, ada yg bilang ke gue kalo ini yang namanya suffering in comfort.

Anyway, gue ngga mau menghakimi siapa-siapa – en bukan maksud gue nulis ini untuk menghakimi. Mungkin mereka punya life struggle yang gue ngga pernah tau. So God have mercy on me.

Beberapa tahun terakhir ini Tuhan banyak merubah pandangan gue tentang kekayaan, lewat orang-orang kaya yang baik – really good rich people – Godly rich people.

Lewat kerjaan demi kerjaan, dan pelayanan demi pelayanan, Tuhan bawa gue untuk ketemu banyak sekali orang-orang di kebun anggurNya – yang kaya raya….:-) And yes, ada beberapa dari mereka yang membuat gue sangat sedih karena attitude dan kelakuan mereka. Tapi ada banyak juga yang baik, ada banyak juga yang rendah hati, ada banyak juga yang memberkati hidup gue, dan bahkan Tuhan pakai untuk memulihkan hati dan hidup gue.

Lewat orang-orang ini gue belajar bahwa kekayaan adalah kemurahan yang Tuhan berikan supaya kita juga bisa bermurah hati kepada sesama, lewat karya-karya penginjilan dan bantuan buat yang susah dan menderita.

And yang sungguh amazing adalah bagaimana mereka punya hati yang begitu besar untuk berbagi kekayaan mereka buat Gereja. Yes, they are amazing givers! Mereka mendapatkan kekayaan yang luar biasa berlimpah dari Tuhan, tapi mereka juga memberi luar biasa berlimpah buat Gereja en sesama. Even more amazing than the amount they give, is that they give away their abundant money with abundant joy! Yes, they are also joyful givers! 

Ada yang bilang bahwa terang aja mereka berbagi banyak, ya mereka udah kaya pastilah bisa kasih banyak. Nah kalo gue kan tiap bulan idup aja masih pas-pasan, gimana mau berbagi? Hmm… ngga juga sih. Gue banyak ngobrol sama orang-orang yang financially diberkati Tuhan luar biasa ini, dan gue nemuin bahwa mereka sudah punya kebiasaan – bahkan komitmen – untuk memberi dengan sangat murah hati sejak mereka masih gak punya uang dalam hidup mereka.

Seorang Tante yang sangat murah hati bercerita bahwa waktu dia masih kuliah, dia sering membuka rumahnya buat anak-anak kampus berkumpul dan berdoa, dan dia selalu menyediakan makanan dan macem-macem sarana supaya anak-anak ini betah ngumpul. Padahal saat itu dia bilang dia masih miskin, tapi dari waktu ke waktu Tuhan selalu berkati hidup dia sehingga dia bisa berbagi dengan yang lain. Semakin dia banyak berbagi, semakin dia ngalamin penyertaan dan berkat Tuhan dalam hidupnya. Hari ini dia banyak sekali berbagi buat karya-karya di keuskupannya. Gosh, I was so blessed meeting with her.

Seorang Oom cerita waktu usahanya hutang ke bank sangat sangat besar – lebih dari 11 digit rupiah, dia ngalamin belaskasih Tuhan yang luar biasa. Saat dia ada dana untuk mencicil hutangnya, eh dia malah dengar Tuhan suruh dia sumbang uangnya ke pelayanan Gereja. So dengan hati yang taat, sejumlah uang yang bisa dipakai buat beli rumah mewah itu, semuanya dia kasih buat pelayanan. Dengan hutang lebih dari 11 digit rupiah itu, pengusaha lain siap dengan 2-3 macam pembukuan (1 buat shareholder, 1 buat petugas pajak, 1 buat internal), tapi Oom ini memilih untuk hidup jujur di hadapan Tuhan dan bertahan dengan 1 pembukuan yang asli. Hmm…yang ini membuat gue berpikir. Luar biasa ya, sementara orang lain akan kabur atau berusaha membuat laporan palsu, Oom ini berpegang pada firman Tuhan dan terus belajar taat. Hari ini, usahanya sudah bebas dari hutang, hidupnya diberkati Tuhan luar biasa, dan beliau banyak dipakai Tuhan untuk mobilisasi dana bagi perluasan kerajaan Allah. Oom yang satu ini sungguh memberkati gue dengan his fatherly wisdom. Again, what a blessing for me to know him.

Ada lagi yang lain. Seorang Bapak in his forties. Waktu ketemu dia, first impression gue: He is a saint! Beneran, cara ngomongnya so gentle dan dari attitude-nya terpancar hati yang bener-bener sincere dalam melayani Tuhan. Setelah ketemu dia beberapa kali, ternyata mobilnya hari ini Mercy S-class, lain kali Land Cruiser, lain kali… wah pokoknya gak nyangka deh dibalik penampilannya yang luxurious, ada hati yang begitu tulus. Kalo kata istri gue, liat dong penampilannya dari atas sampe bawah merek semua.. he..he.. Kemudian gue juga dapet tau bahwa dia seorang yang sangat murah hati dalam berbagi di pelayanan. Oh my God, there are so many good rich people – Godly rich people! Where have I been all this time?

Ada Oom yang ini, Tante yang itu, Oom yang lain lagi, Tante yang lain lagi – satu per satu hadir dalam hidup gue dan menjadi such a strong and beautiful inspiration.

Gue belajar bahwa Tuhan mau memberkati hidup kita karena Dia begitu mencintai kita. Beberapa orang secara khusus Tuhan mau pakai untuk menjadi saluran berkat keuangan buat GerejaNya dan sesama. Pengalaman pelayanan gue menunjukkan bahwa karya-karya pewartaan butuh dana yang ngga kecil. Karya-karya penginjilan ngga murah, tapi Injil kerajaan Allah tetap harus diberitakan sampai ke ujung dunia. Di abad multimedia ini, pesan cinta dan kehidupan anugerah TUhan harus lebih lantang terdengar daripada suara-suara sekuler yang seringkali menyesatkan. Orang-orang miskin harus ditolong, dan anak-anak terlantar harus dipelihara supaya mereka kenal cinta Tuhan. Siapa yang mendanai proyek-proyek kecil dan proyek-proyek besar Tuhan kalau bukan anak-anakNya sendiri – seperti gue ini. (ciee..)

Gue belajar bahwa kita dipanggil untuk berbagi buat sesama. Semakin kita diberkati, semakin kita diutus untuk menjadi berkat buat sesama. Banyak orang bilang salah kalau kita kasih perpuluhan supaya diberkati Tuhan 100 kali lipat. Masa Tuhan disogok pakai perpuluhan? He..he.. dulu gue juga berpikir begitu, en memang salah kalau kita berpikir mau nyogok Tuhan. Tapi kenyataannya Tuhan itu memang sangat baik dan Dia mau memberkati kita. Berkat-berkatNya sudah Dia sediakan buat kita dan tinggal kita ambil. Caranya? Gimana kalau Tuhan bilang gini: Berkat-berkat untukmu sudah Kusediakan. Supaya kamu belajar memberi, terimalah berkat yang sudah Kusediakan itu dengan cara  memberi 10% dari hasil usahamu bagi GerejaKu…. Hmm.. rasanya sih fair enough. Apakah ini berarti nyogok? I don’t think so. Memang Tuhan sudah sediain kok berkatnya, hanya saja kita harus belajar memberi untuk mendapatkannya, supaya kita ngga terikat sama uang…

Jadi sekarang apakah kita perlu memberi perpuluhan? Gue selalu percaya bahwa cinta tidak dibatasi oleh angka tertentu. Jadi berilah buat Tuhan sebesar cintamu ke Tuhan. Angkanya? Ya terserah sebesar apa cintamu. Sepuluh persen boleh saja menjadi patokan dasar. Duapuluh persen juga boleh. Apalagi tigapuluh persen… Ada seseorang yang gue tau malahan mau kasih sembilan puluh persen buat berbagi dan sepuluh persen buat hidup keluarganya. Dan Tuhan memberkati hidupnya luar biasa berlimpah… (Berkat kan bukan cuma uang, banyak hal lain yang juga sangat penting, misalnya kesehatan, sukacita, keluarga yang harmonis, dsb.)

Apakah gue kasih perpuluhan supaya diberkati Tuhan? Yes of course.

Supaya diberkati 100x lipat? Oh yes definitely.

Supaya bisa memupuk kekayaan pribadi? No, never! Gue rindu diberkati Tuhan supaya gue bisa banyak berbagi dengan sesama yang menderita dan kekurangan. Gue rindu diberkati Tuhan supaya gue bisa menabur benih lewat pewartaan Injil. Gue rindu diberkati Tuhan supaya gue bisa membantu generasi muda Katolik bangkit dan berkarya buat Gereja dan dunia – dan mulai dari keluarga dan paroki kita masing-masing.

Hari ini, puji Tuhan atas those precious people – Godly rich people in my life. Apa gue mau hidup kaya?

Buat Tuhan? hayyuukk…!

(I’m on my way there already, just wait and see. Or even better – join me!)

Quotes of Mother Teresa

A clean heart is a free heart. A free heart can love Christ with an undivided love in chastity, convinced that nothing and nobody will separate it from his love. Purity, chastity, and virginity created a special beauty in Mary that attracted God’s attention. He showed his great love for the world by giving Jesus to her.

There is a terrible hunger for love. We all experience that in our lives – the pain, the loneliness. We must have the courage to recognize it. The poor you may have right in your own family.
Find them.
Love them.

Before you speak, it is necessary for you to listen, for God speaks in the silence of the heart.

Give yourself fully to God. He will use you to accomplish great things on the condition that you believe much more in His love than in your own weakness.

Speak tenderly to them. Let there be kindness in your face, in your eyes, in your smile, in the warmth of your greeting. Always have a cheerful smile. Don’t only give your care, but give your heart as well.

The more you have, the more you are occupied, the less you give. But the less you have the more free you are. Poverty for us is a freedom. It is not mortification, a penance.
It is joyful freedom. There is no television here, no this, no that. But we are perfectly happy. 

I pray that you will understand the words of Jesus, “Love one another as I have loved you.” Ask yourself “How has he loved me? Do I really love others in the same way?” Unless this love is among us, we can kill ourselves with work and it will only be work, not love. Work without love is slavery.

Little things are indeed little, but to be faithful in little things is a great thing.

A sacrifice to be real must cost, must hurt, must empty ourselves. The fruit of silence is prayer, the fruit of prayer is faith, the fruit of faith is love, the fruit of love is service, the fruit of service is peace.

Keep the joy of loving God in your heart and share this joy with all you meet especially your family. Be holy – let us pray.

I once picked up a woman from a garbage dump and she was burning with fever; she was in her last days and her only lament was: ‘My son did this to me.’ I begged her: You must forgive your son. In a moment of madness, when he was not himself, he did a thing he regrets. Be a mother to him, forgive him. It took me a long time to make her say: ‘I forgive my son.’ Just before she died in my arms, she was able to say that with a real forgiveness. She was not concerned that she was dying. The breaking of the heart was that her son did not want her. This is something you and I can understand.

When once a chairman of a multinational company came to see me, to offer me a property in Bombay, he first asked: ‘Mother, how do you manage your budget?” I asked him who had sent him here. He replied: ‘I felt an urge inside me.’ I said: other people like you come to see me and say the same. It was clear God sent you, Mr. A, as He sends Mr. X, Mrs. Y, Miss Z, and they provide the material means we need for our work. The grace of God is what moved you. You are my budget. God sees to our needs, as Jesus promised. I accepted the property he gave and named it Asha Dan (Gift of Hope).

Yesterday is gone. Tomorrow has not yet come. We have only today. Let us begin.

Like Jesus we belong to the world living not for ourselves but for others. The joy of the Lord is our strength.

There is only one God and He is God to all; therefore it is important that everyone is seen as equal before God. I’ve always said we should help a Hindu become a better Hindu, a Muslim become a better Muslim, a Catholic become a better Catholic. We believe our work should be our example to people. We have among us 475 souls – 30 families are Catholics and the rest are all Hindus, Muslims, Sikhs—all different religions. But they all come to our prayers.

There are so many religions and each one has its different ways of following God. I follow Christ:
Jesus is my God,
Jesus is my Spouse,
Jesus is my Life,
Jesus is my only Love,
Jesus is my All in All;
Jesus is my Everything.

Make us worthy, Lord, to serve those people throughout the world who live and die in poverty and hunger. Give them through our hands, this day, their daily bread, and by our understanding love, give them peace and joy.
I heard the call to give up all and follow Christ into the slums to serve Him among the poorest of the poor. It was an order. I was to leave the convent and help the poor while living among them.

When a poor person dies of hunger, it has not happened because God did not take care of him or her.
It has happened because neither you nor I wanted to give that person what he or she needed.

You and I, we are the Church, no? We have to share with our people. Suffering today is because people are hoarding, not giving, not sharing.
Jesus made it very clear. Whatever you do to the least of my brethren, you do it to me.
Give a glass of water, you give it to me. Receive a little
child, you receive me.

Everybody today seems to be in such a terrible rush, anxious for greater developments and greater riches and so on, so that children have very little time for their parents. Parents have very little time for each other, and in the home begins the disruption of peace of the world.

If we really want to love we must learn how to forgive.

 

Banjir Jakarta 2007

flood1-no-frame.jpgBanjir Jakarta memaksa Lia dan saya mengungsi ke rumah Mike – Ministry Coordinator pelayanan bidang multimedia komunitas kami. Tapi di tengah-tengah kegelapan malam karena mati lampu, dan di tengah-tengah deru hujan deras yang tak kunjung berhenti, Tuhan mengingatkan saya akan peristiwa-peristiwa air yang terjadi ribuan tahun yang lalu.

Peristiwa air yang bisa jadi bencana bagi banyak orang, bisa juga menjadi berkat bagi orang-orang percaya. 

Waktu hujan mulai turun tanpa henti membasahi bumi pada jaman Nuh, kepanikkan yang dirasakan penduduk sangat bisa dimengerti. Betapa tidak, untuk pertama kalinya mereka mengalami hujan yang sedemikian derasnya. Ketika air mulai menggenang di mana-mana, anak-anak mulai berlari-lari kegirangan. Ketika ketinggian air mencapai lutut, anak-anak masih bermain dengan riang gembira, sementara para orang tua mulai berjaga-jaga. Namun ketika riak gelombang air mencapai separuh badan, derasnya hujan mulai tersaingi oleh derasnya rasa panik yang membayangi penduduk setempat. Tak ada lagi senda gurau anak-anak, dan tak ada lagi raut senyum di wajah orangtua mereka. Semua merasa takut, dan semua mulai membayangkan hari esok yang tidak menentu… 

Waktu derap pasukan Firaun terdengar semakin dekat, suara nyanyian dan senda gurau bangsa Israel juga mulai mereda. Kebebasan yang sepertinya sudah diambang mata, dapat segera berubah dalam sekejab. Bukan karena mereka tidak bisa lari, tapi karena dihadapan mereka terpampang lautan raya. Ini bukan soal mengubah tongkat menjadi ular, ini juga bukan soal air yang bisa berubah menjadi darah, bahkan ini juga bukan soal nyawa anak sulung semata – seperti yang terjadi sebelum hijrah besar-besaran ini. Kali ini, ada jutaan hidup yang terhimpit antara kejaran penindasan dan dunia air tanpa batas. Ketika pasukan semakin mendekat, suara derap kuda yang bersahutan dengan ombak lautan mulai tersaingi dengan suara kepanikan yang melanda jutaan rakyat. Jangankan hari esok, hari inipun belum tentu bisa lewat dengan selamat… 

Nuh takut. Musa juga takut.

Tapi mereka juga punya kesamaan lain. Mereka memilih untuk percaya pada Tuhan yang lebih besar daripada segala ketakutan mereka. Sekalipun aku berjalan melewati lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Tuhan besertaku…Seorang bijaksana pernah berkata: Semua orang pasti mengalami rasa takut. Orang berani hanyalah orang takut, yang berjalan terus maju menghadapi dan melewati ketakutannya. 

Nuh berjalan terus menghadapi cemoohan orang, dan saat rasa takut mulai mendekat, sebuah perahu besar di atas gunung perlahan mulai terangkat dan bergerak di atas air. Saat bencana besar datang, bahtera kayu yang besar membawa orang-orang percaya berlayar menuju hari esok yang baru, yang Tuhan sendiri sediakan. 40 hari kemudian, bahtera ini mendarat di sebuah bukit. Dan Allah menciptakan langit dan bumi yang baru… 

Musa tahu bahwa dirinya tidak pandai berbicara. Tapi hatinya yang takut telah belajar bergantung pada kekuatan Tuhannya. Tangannya memegang tongkat dan terangkat tinggi tinggi, setinggi hatinya yang berharap pada belaskasihan Tuhan. Lautan terbelah. Bangsa Israel berjalan di tengah-tengah lautan. Pasukan Firaun terendam air. Dan Allah memulai perjalanan yang baru, penyertaanNya yang penuh kuasa, menuju tanah yang berlimpah susu dan madunya… 

2 peristiwa, 2 tokoh yang berbeda, tapi keduanya adalah peristiwa air.

  1. Air bah tetap datang, tapi orang percaya tidak tenggelam. Mereka berlayar di atas air yang membawa mereka pada pelangi cinta Tuhan.
  2. Air laut tetap bergelora dan gelombang besar tetap bergemuruh, tapi orang percaya tidak tenggelam. Mereka berdoa, dan gelombang besar membelah samudera raya supaya orang percaya bisa berjalan di tengah-tengahnya. Gelombang besar kembali bergulung menenggelamkan firaun-firaun kehidupan, tapi orang percaya sudah jauh aman di depan, dengan penuh penyertaan kuasa Tuhan, berjalan menuju tanah perjanjian yang sentosa.

 2 peristiwa, 2 tokoh yang berbeda, tapi keduanya tidak lari dari tantangan dan pergumulan. Mereka justru memilih untuk melangkah masuk ke dalam ketakutan mereka bersama dengan Tuhan yang Maha Besar. Mereka melebarkan sayap-sayap iman mereka sekuat hati, menerobos masuk ke tengah-tengah samudera raya yang terbelah, serta keluar dengan selamat dan berkemenangan bersama Tuhan. 

Dan jangan lupa. Setelah melewati air bah, ada berkat langit yang baru dan bumi yang baru, bahkan ada meterai janji Tuhan di langit berupa pelangi cintaNya yang kekal. Setelah melewati samudera raya, ada berkat tanah perjanjian yang subur – yang  melimpah susu dan madunya – yang Tuhan sendiri sediakan bagi orang-orang yang percaya. 

Hari ini, kalau ada air bah dalam hidupmu – pilihlah untuk tetap percaya.

Hari ini, kalau ada ancaman mengejarmu dan samudera raya yang dalam di depanmu – pilihlah untuk mengangkat hatimu tinggi-tinggi dan terus berjalan maju bersama Tuhan, sebab orang percaya akan melihat mujizat besar Tuhan terjadi dalam hidupnya. 

Dan jangan lupa. Persiapkan hati dan hidupmu untuk berkat yang besar, yang Tuhan sediakan hanya bagi orang-orang yang percaya. Dia Allah yang sama: dulu, sekarang, dan selama-lamanya. Masih ada langit dan bumi yang baru buat anda, masih ada pelangi cinta yang kekal buat anda, masih ada tanah yang berlimpah susu madunya buat anda – dan buat orang-orang yang anda kasihi!  

Masih ada mujizat besar buat anda – buat semua orang yang memilih untuk percaya. 

Hari ini, kalau ada bencana banjir besar di Jakarta, atau banjir masalah apapun dalam hidup ini, anda tau pilihan yang harus anda buat!

Life is Beautiful

Life is a gift and I thank God for everything He is and everything He has done to me.

If I look back to 10-15 years ago, I realize that there has never been any moment in my life, where He left me. He has always been with me through all of my struggle and my pain. He has always been with me through all my failures and tears. Most amazingly, He has always been by my side even at the many times when I was not lovable. There were times – and I know not only a few of them – when I was not easy at all for others to love. However, during these tough moments, His love never departed. He held me even closer, and He said He loved me a million times. He proves me that there is indeed no limit to His love and mercy and goodness…

I thank Him for His unconditional love.

He teaches me that a pure gold is a precious offering unto Him, yet a heart of love is purer than gold and even more precious to His Own Heart. He teaches me that flowers tell the beauty of God’s creation, yet a lifetime of faithfulness and humility is more beautiful than the flowers of the springtime.  He teaches me that material wealth can reflect the riches of God’s abundance, yet a strong Godly character is richer than the world with all its material wealth.  

I thank Him for His Fatherly wisdom. 

Every person in this world reflects the face of Jesus. The most unloving person in this world is Jesus in disguise, inviting us to enlarge our capacity to love. The most unfavorable situation in this life is Jesus at work, encouraging us to expand our trust in Him. It is Jesus everywhere. It is love at work everywhere. And no matter what circumstances we have today, in the end love always wins. We don’t know what exactly will happen in a few years from now, or even a few minutes from now. But we do have the assurance that no matter what happens; love is always at work to make all things beautiful for us – for me.Jesus always wants to make me happy. Jesus always wants to fill me with joy – a never ending everyday joy of complete trust in Him.

I thank Him for His everyday grace.

He placed dreams in my heart, and He fulfills them one by one. He does not pour down events and situation from heaven, but He invites us to take part in His saving work of love. He showers us with divine grace from above, and allows us to undergo struggle and even failures. He accompanies us with His everyday strength and consolation to make our dreams come true. At the end of the day, it is not only the dreams that materialize, but the heart – the wounded and broken heart – has become full of wisdom and compassion. A heart just like His very own Heart.

I thank Him for life passion and dreams.

His love, His mercy, His forgiveness, His peace, His joy… they fill my heart to overflow.

His desires, His words, His promises, His smiles, His laughter… they fill my passion days and nights.

His protection, His blessings, His affirmation, His abundance, His trust in me… they fill my everyday walk, they enable me to fly like an eagle; they empower me to inspire the world with love.

He is everywhere in and around me. He is my life.

Life is indeed beautiful.

Lovely Lia

Do = C Song and lyric: Riko
4/4

It’s because the sparkle
In your eyes
That I think of you
Days and nights

It’s because the smile
On your lips
That I think of you
Always by my side

It’s because the touch
Of your skin
That I can’t get you
Out of my mind
But most of all I love you
And it’s because you are you

Reff:
I love you because you are my lovely Lia
You’re the God-sent-angel by my side
Who loves me thru and thru
I love you because of who you are to me
And when forever is thru’
I’d spend the end with you
Saying I love you.

r.

Jakarta, August 2007