The Grace of Life, the Glory of Easter IV

Yesus dan Grace Gloria

Hari Senin malam, beberapa sahabat cordisian yang tergabung dalam Youth Mission 4 Life (YM4L) mengikuti sessi tentang Humanae Vitae oleh Rm.Deshi Ramadhani, SJ, di sebuah kursus yang diadakan oleh TOBIT (Theology Of the Body InsighT), salah satu kerasulan Domus Cordis, komunitas kami. Humanae Vitae adalah ensiklik yang ditulis oleh Paus Paulus VI tentang sakralnya hidup manusia, dan bagaimana kita dipanggil untuk berjuang demi anugerah kehidupan ini. Sesudah itu, kami pergi bersama Rm. Paulus Dwiyaminarta, CSsR, salah satu pendamping komunitas kami, untuk ngobrol-ngobrol tentang YM4L. Saat sedang ngobrol sebuah pesan singkat dari Bimo masuk “Grace sudah pulang…”

Malam itu beberapa dari kami bergegas ke Rs. Carolus, tepatnya rumah duka Carolus. Karena rumah duka penuh, maka tubuh baby Grace dibaringkan di ruang transit untuk satu malam saja, sebelum keesokan harinya dibawa ke Bogor dan dimakamkan di pemakaman keluarga. Again, she looked so cute. Dibalut selimut kuning dan topi kuning, Grace tampak tersenyum. Lia bilang “It’s a good fight GraceYup, it is finished. Apapun misinya, misi itu telah selesai. Di hati saya terbersit sebuah ide. Mungkin Grace yang justru sedang berkata ke kita semua di sekeliling peti itu “No, I’m just a baby with a mission. It’s a good fight that you guys have been doing. Please keep on doing it for other lives…”

Malam itu Lia dan saya pulang, dan sebelum tidur kami siapkan teks lagu untuk Misa Requiem paginya.

Pukul 7.30 kami berdiri di depan peti kecil Grace, lagu Amazing Grace dinyanyikan, dan Rm. Deshi berjalan menuju meja altar kecil yang sudah disiapkan di sebelah peti. Amazing grace how sweet the sound, that saved a wretch like me. I once was lost but now I’m found, was blind but now I see. Yup, rahmat Tuhan memang mengagumkan, se-mengagumkan bayi kecil tidak berdaya, yang dipakai Allah untuk menyerukan anugerah kehidupan. Saat homili, Rm.Deshi mengatakan bahwa Bimo dan Ninu telah menang, karena memilih untuk bersama Yesus sendiri memperjuangkan kehidupan. Di benak saya terbayang baby Grace yang untuk pertama kalinya ikut Misa. Hati kita yang berdosa saja kadang begitu “terangkat” waktu Allah hadir dalam Ekaristi, apalagi Grace yang tanpa dosa. Betapa hatinya pasti begitu penuh dengan sukacita dan cinta Tuhan. Maka sekali lagi kita semua bernyanyi …Betapa ajaib dan dahsyatNya Tuhan kejadianku, Kau menenun diriku serupa gambaranMu, sungguh berharga di mataMu Tuhan kehidupanku, kau membawa hatiku mendekat erat dengan hatiMu…

…dan tubuh Grace-pun diberangkatkan ke Bogor, dan dimakamkan di sana. Tapi rohnya telah terbang bersama Yesus. Lewat sakramen baptis dan kematian, ia telah memasuki kehidupan yang sesungguhnya.

Beberapa catatan terakhir

Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Segala sesuatu diciptakan oleh Tuhan dengan maksud dan tujuan tertentu, yang semuanya menunjuk pada keilahian Allah sendiri. Paskah menjadi perayaan besar, sebab pintu gerbang kehidupan yang sesungguhnya terbuka lebar bagi semua yang telah mati dan bangkit bersama Yesus. Kegelapan malam telah dihalau oleh cahaya terang dari makam yang terbuka. Keputusasaan digantikan oleh harapan yang hidup bersama dengan bangkitnya Anak Manusia. Hidup yang fana di dunia ini telah digantikan oleh hidup yang kekal dalam kemuliaan Sang Pencipta Kehidupan.

Sebab semua orang yang dipilihNya dari semula, mereka juga ditentukan dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran anakNya, supaya Ia anakNya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukanNya dari semula, mereka itu juga dipanggilNya. Dan mereka yang dipanggilNya, mereka itu juga dibenarkanNya. Dan mereka yang dibenarkanNya, mereka itu juga dimuliakanNya (Rm 8:29-30).

Sejak usia 5 bulan dalam kandungan Ninu, baby Grace Gloria telah diundang untuk bersatu dengan Yesus yang memberitakan penderitaanNya. Hari itu Hail Mary full of grace… pertama kali diangkat untuk mempersembahkan hidup yang rapuh ke dalam doa dan perlindungan Bunda Maria. Maria adalah a Mother who is full of grace, yang selalu setia menghantar kita semua pada Salib dan bahkan kemuliaan Puteranya. And so in her maternal love, the baby was named Grace Gloria.

Bimo dan Ninu tinggal di kamar Santo Josef, seorang santo pelindung kehidupan yang menjaga Maria dan bayi Yesus sendiri dalam pelarian dari Herodes. Bukan hanya itu, karena ia meninggal dunia didampingi oleh Maria dan Yesus sendiri, maka St.Yosef juga adalah santo pelindung orang-orang yang sedang dalam keadaan mendekati kematian. Apakah kebetulan keluarga dengan bayi beresiko ini ada di dalam kamar St.Yosef?

Di ruang atas, di kamar Goretti, baby Grace terbaring dengan segala alat bantunya, menghabiskan waktu-waktu terakhirnya bersama Bimo dan Ninu – seperti di ruang atas Yesus menghabiskan waktu-waktu intim dan detik-detik terakhir bersama para sahabatNya.

Santa Maria Goretti adalah salah satu orang kudus termuda yang digelari santa, dan sekaligus salah satu pelindung orang muda. Tidak ada satu katapun yang terucap oleh baby Grace selain tangisan pendek di hari kelahirannya. Begitu juga tidak ada satupun kata yang diucapkan oleh Santa Maria Goretti yang dicatat dalam sejarah, namun perjuangan mempertahankan kesuciannya bagi Allah menjadi inspirasi bagi banyak wanita-wanita muda yang mau hidup suci bagi Allah dan GerejaNya.

Bagi saya, yang paling indah dari kehidupan Grace adalah masa hidupnya. Hari Minggu Palma kita merayakan Yesus yang memasuki Yerusalem untuk menjalani hari-hari terakhirNya di dunia ini. Yesus secara istimewa mengajak Grace menemaniNya di Yerusalem, menderita hingga wafat di puncak Kalvari. Hari Minggu Paskah kita merayakan Yesus yang bangkit dari kubur untuk mewartakan harapan akan hidup yang kekal. Sehari sesudahnya, Grace meninggal dunia. Sekali lagi Yesus secara istimewa mengajak Grace menemaninya bangkit untuk memasuki hidup yang kekal. Selama pekan suci Grace ada bersama kami semua. Ia yang telah bersatu dengan penderitaanNya, ia yang telah bersatu dengan kematianNya, tidak pernah ditinggakan sendirian di dalam kubur. Enam hari usia hidup Grace di dunia ini, dan di hari ketujuh ia memasuki hidup yang kekal bersama Tuhan. Bagi orang yang percaya, kematian tidak pernah menjadi akhir dari perjalanan hidup kita. Justru di balik kematian, ada hidup yang lebih penuh, lebih bahagia, dan lebih mulia. Grace menujukkan ini dengan jelas, justru setelah ia menghembuskan nafasnya yang terakhir di dunia ini. Yes, malam itu ada satu pesan penting lagi yang Grace ingin sampaikan ke kita semua, pesan terakhirnya.

Semua ruang di rumah duka penuh, yang tersisa tinggal ruang transit bagi jenasah. Hati saya tersenyum waktu mendengar berita ini. Berita penderitaan, drama penderaan, dan situasi ketidakberdayaan kita, waktu berhadapan pada cemerlangnya Paskah, mau tidak mau akan menggemakan di hati kita semua bahwa hidup di dunia ini cuma sekedar transit. Ada yang jauh lebih penting dan lebih mulia di balik semua pergumulan dan pengharapan kita. Anugerah kehidupan memang sungguh berharga, tapi anugerah ini baru mencapai kesempurnaannya waktu dipersatukan dengan Kristus yang bangkit dan mengundang kita masuk ke dalam kekekalan bersama Dia. Semua yang kita hadapi hari ini, entah itu sakit, sehat, miskin, kaya, sedih, susah, semuanya hanya sementara, bahkan dibandingkan dengan kekekalan, semuanya amat sangat singkat. Waktu berlalu dengan cepat, dan hidup yang kita jalani ini sungguh rapuh. Kekuatan yang sesungguhnya terletak pada pilihan-pilihan yang kita buat di waktu hidup yang singkat ini, sebab saat inilah kita meletakkan dasar-dasar bagi hidup kita di dunia mendatang. Hidup di dunia ini cuma transit, kata Grace – dan Grace pun cuma mampir sebentar untuk mengajarkan kita arti berjuang demi kehidupan yang penuh cinta dan pengharapan, lalu iapun berlalu bersama Yesus, pencipta dan kekasih sejati hatinya. When together with Jesus we fight for life, we gain eternal life.

This is the story of grace – the grace of Life.

This is the story of glory – the glory of Easter.

This is the story of Grace Gloria.

(end)

Advertisements

The Grace of Life, The Glory of Easter II

Yesus memasuki Yerusalem

Siang itu, Lia istri saya, dan saya, memasuki gedung gereja sambil menyanyikan lagu “Yerusalem… Yerusalem, lihatlah RajaMu…” Setelah beberapa minggu menjalani masa pantang dan puasa, hari itu umat Allah mengenang Yesus yang duduk di atas keledai, memasuki kota Yerusalem. Kerumunan orang banyak melambaikan daun palma menyambut kedatangan Mesias ini di kota mereka. Sorak sorai terdengar sepanjang jalan, dan orang-orang berdesakan ingin melihat Anak Manusia ini. Tidak ada yang tahu drama besar yang akan terjadi minggu itu, bahkan para rasulpun tidak tahu. Entah apa yang terbayang di benak Yesus saat itu; sukacita atas umatNya, atau nyeri yang mulai menyelinap terasa di hatiNya karena tahu bahwa waktunya sudah dekat, bahkan sudah sangat dekat. Penderitaan yang Ia beritakan beberapa waktu yang lalu akan segera digenapi. “Sekali-sekali hal itu tidak akan terjadi padaMu” demikian kata Petrus waktu mendengar pemberitahuan Yesus tentang penderitaan yang akan dideritaNya. Atau bagaimana dengan tanggapan ibu anak-anak Zebedeus “Bolehkah kedua anakku ini kelak di kerajaanMu duduk di sebelah kananMu dan di sebelah kiriMu?” Aahh, they are all missing the whole point of Jesus’ suffering. Yang satu menolak penderitaan mulia, yang lain sibuk dengan posisi yang mau mereka kejar. But who can comprehend the mystery and the glory of your suffering Lord?

Seninnya saya mendapat BBM dari Bimo. “Sudah mulai masuk minggu ke-42, malam ini Ninu akan masuk Carolus dan besok pagi caesar”. Bimo telah meminta saya sebelumnya untuk menjadi wali baptis buat Grace Gloria – that’s the baby’s name.

The time has come.

Sore itu saya berusaha menghubungi Rm.Deshi Ramadhani, SJ, untuk mengajaknya datang ke Carolus dan berdoa bersama, tapi ternyata ia sedang berada di Bandungan. Maka malam itu saya menjemput Rm. Nugie, SJ, di rumah Jesuit di Jl. Johar, dan bersama Lia kami mengunjungi Bimo dan Ninu. Malam itu Bimo dan Ninu bermalam di kamar Josef – santo pelindung keluarga. Di kamar itu kami ngobrol-ngobrol, dan kemudian menutup malam dengan doa dan berkat oleh Rm.Nugie.

Besoknya jam 7.30, bersama kedua orang tua Bimo dan Ninu, kami sudah stand by di Carolus untuk  menunggu Ninu menjalani operasi Caesar dan segera sesudahnya membaptis Grace. Setelah menanti sekitar 30 menit di ruang tunggu, pintu Recovery Room dibuka dan kami diijinkan masuk untuk upacara Baptis.

Baby Grace looked so cute berwarna putih kemerahan. Ia terbaring dalam sebuah inkubator dengan bagian kepala yang ditutupi. Dengan penutup kepala ini, orang tidak akan menyadari bahwa ia menderita anenchepaly. Tangisannya terdengar seperti bayi sehat biasa, dan gerakan tangannya yang kecil seperti mau menunjukkan kepada semua orang “It’s ok, I’m fine.” Rm. Nugie memimpin doa ibadat singkat, lalu memasukkan tangannya ke dalam inkubator sambil mengucapkan “Aku membaptis kamu, demi nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus” Setitik air suci direciki di dahi Grace yang kecil, dan kepalanya mengangguk kecil seolah mengucapkan “Amin…”. Di menit-menit yang berharga itu, melalui Sakramen Baptis, baby Grace di-claim menjadi milik Tuhan yang ditebus oleh kematian dan kebangkitan Yesus, serta menjadi anggota terbaru dari keluarga besar Kerajaan Allah. Di ruang sederhana itu didaraskan doa yang sederhana juga, namun punya kekuatan seluruh Sorga yang bersorak-sorai karena satu anak lagi, satu kehidupan lagi diperjuangkan dan dipersembahkan bagi Allah. Glory is His name! (and Glory is her name too – Grace Gloria!)

Hari itu, di FB Bimo tertulis “Hari ini telah lahir Grace Gloria. Seorang anak pejuang kehidupan. Karena berkatNya kami dikuatkan. Dan untuk kemuliaan Tuhan-lah ia hadir.”

Yesus meluangkan waktu dengan murid-muridNya

Pekan Suci adalah minggu tersuci di sepanjang tahun liturgi Gereja. Di minggu ini, semua umat Allah diundang untuk mendekatkan diri kepada Yesus yang memilih untuk menderita demi cintaNya yang besar atas umat manusia kesayanganNya. “…Yesus telah tahu bahwa saatNya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa…”(Yoh 13:1) dan Iapun meluangkan waktu-waktu terakhirNya bersama para rasul. Di sebuah ruang atas (bdk. Mrk 14:15) di Yerusalem, Yesus berpesan “Janganlah gelisah hatimu…” (Yoh 14:1).

“…Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepadaNya. Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepadaKu untuk melakukannya. Oleh sebab itu ya Bapa, permuliakanlah Aku padaMu sendiri dengan kemuliaan yang telah Kumiliki di hadiratMu sebelu dunia ada” (Yoh 17:1-5)

Juga di sebuah ruang atas, Grace dibaringkan di sebuah inkubator, di ruang Goretti. Bagian atas kepala Grace ditutup dengan kasa, dan ia diberi bantuan selang oksigen serta sonde untuk makanan. Sehari-hari kondisinya terlihat cukup stabil, dan keluarga terus mendukung dengan doa yang tak kunjung putus. Kasih seperti ini menampakkan kemuliaan Allah yang hadir dengan sederhana namun begitu kuatnya.

…Bukan untuk dunia Aku berdoa, tapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku,…dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka” (bdk. Yoh 17:9-10).

Beberapa foto dan video clip dikirimkan oleh Bimo untuk memperlihatkan baby Grace yang terus mau berjuang untuk hidup dan meluangkan waktu-waktu berharganya bersama keluarga yang mencintainya. Bila diputarkan lagu anak-anak seperti Twinkle twinkle, ia tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Tapi begitu diperdengarkan lagu Erat Dengan HatiMu, baby Grace memberikan response dengan gerakan-gerakan tertentu. Sepertinya ia tahu benar lirik lagu itu …betapa ajaib dan dahsyatnya Tuhan kejadianku, Kau menenun diriku serupa gambaranMu, sungguh berharga di mataMu Tuhan kehidupanku, Kau membawa hatiku mendekat erat dengan hatiMu… Berapa banyak yang sungguh menyadari ini, atau kita cuma sekedar take it for granted akan hidup kita? Mungkin perlu seorang anencephalic baby untuk mengingatkan betapa hidup kita berharga di mata Tuhan.

Sekali waktu saya sedang di kamar bersama Lia dan Ninu, sementara Bimo sedang Misa di kapel Carolus. Ninu bilang “Bimbim terus ada di dekat Grace karena dia nggak mau kehilangan moment…”

(to be continued)

The Grace of Life, The Glory of Easter I

(dedicated to Bimo, Ninu, and YM4L)

Terpujilah Tuhan! Pekan Suci dan Paskah tahun ini sungguh kaya, karena Allah mengijinkan saya bersentuhan dengan indahnya dan kuatnya anugerah kehidupan. Bukan kebetulan ini terjadi pada waktu yang bersamaan dengan persiapan kami meluncurkan YM4L (Youth Mission 4 Life), sebuah gerakan orang muda untuk membela, mendukung, dan mewartakan anugerah kehidupan. Mujizat memang bisa hadir dengan berbagai wajah, dan kali ini dengan wajah yang sungguh cemerlang bercahaya.

This is the story tentang seorang anak baptis yang mengajarkan wali baptisnya tentang anugerah kehidupan. And it all started a few months ago…

Yesus memberitakan penderitaanNya

Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-muridNya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan…  (Mat 16:21)

Di tengah panasnya Jakarta yang sedang macet gila, BB saya berdering. Bimo, seorang sahabat dan partner kerja saya telpon dan mengajak untuk bertemu “…mau cerita tentang urusan keluarga” katanya. Sekitar 2 jam kemudian, ia dan istrinya – Ninu, duduk di depan saya di McDonald dekat Domus Cordis Center, rumah komunitas kami. Di kehamilan Ninu yang memasuki bulan kelima, mereka baru saja mendapati bahwa bayi mereka menderita anenchepaly (http://www.bayi-anencephaly.info), sebuah kondisi bayi yang mana sesudah dilahirkan biasanya hanya berusia beberapa menit atau paling lama beberapa hari, karena pembentukan otak dan tempurung kepala yang tidak sempurna. Data statistik mengungkapkan bahwa 75% kelahiran seperti ini berakhir dengan kematian langsung bagi sang bayi. Ada kemungkinan kecil sekali bahwa bayi dapat bertahan hidup selama beberapa menit. What should I say? Even my heart cried when I heard the news, apalagi orang tuanya.

Beberapa menit kemudian, kita ngobrol tentang pilihan-pilihan yang mungkin bisa ditempuh. Beberapa pihak mungkin memikirkan kemungkinan aborsi, walaupun dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal. Misalnya bayi ini kan belum lahir, jadi belum hidup, di-aborsi saja tidak apa-apa. Saya pikir, siapa bilang belum ada kehidupan? Memangnya kapan sebenarnya kehidupan itu dimulai? Apakah sehari sebelum kelahiran? Apakah 2 hari sebelum due date bayi dikeluarkan sudah ada kehidupan? Tentu sudah. Bagaimana kalau seminggu sebelum kelahiran? Sudah juga. Lalu bila demikian, kapan tepatnya kehidupan ini mulai? Di usia 8 minggu, janin sudah memiliki organ tubuh yang lengkap. Mungkin 8 minggu kurang 1 hari, saat ada salah satu organnya yang belum sempurna, maka ia belum menjadi sebuah kehidupan manusia. Kalau keutuhan organ menjadi standar, seorang dewasa yang tidak mempunyai tangan juga berarti belum memiliki kehidupan, maka kita “aborsi” saja dia? Atau mungkin kita tidak yakin kapan kehidupan itu mulai? Kalau seseorang ingin meruntuhkan sebuah rumah namun tidak yakin di dalamnya ada orang atau tidak, apakah ia akan tetap meruntuhkannya? Tentu ia akan memastikan dulu, dan apabila ia tidak mendapat kepastian, maka ia tidak akan meruntuhkan rumah itu, karena bagaimanapun juga kemungkinan kehidupan manusia harus mendapatkan prioritas perlindungan.  Maka kalau bicara dari sudut pandang kepastian kehidupan, pendekatan terbaik adalah dengan tidak melakukan termination

Argumen lain yang tidak masuk akal adalah demi kenyamanan ibu. Untuk apa kehamilan diteruskan apabila toh akhirnya bayi ini akan meninggal juga. Di-terminate saja segera, and life goes on. Kalau saudara kita di-vonis kanker oleh dokter dan diprediksi akan meninggal dunia dalam waktu 6 bulan, maka demi kenyamanan keluarganya, kita “aborsi” saja dia segera hari ini, toh nanti 6 bulan lagi juga dia akan meninggal dunia. Memperjuangkan kenyamanan hidup dengan cara membunuh orang lain?

Atau daripada si bayi menderita, kasihan, kita aborsi saja. Dengan kata lain, kalau kita lihat orang tua kita menderita sakit karena usia lanjut, daripada menderita, kita “akhiri” saja penderitaannya dengan suntik mati…? Ah ada-ada saja.

Di tengah penderitaan seorang sahabat yang sakit, kita justru menemani dan mendampingi sebaik dan semampu kita. Kenyataan bahwa kemungkinan hidupnya tinggal 6 bulan bukan alasan untuk menelantarkannya demi alasan apapun, tapi justru kita memanfaatkan kesempatan singkat ini untuk membuat hidupnya semakin kaya, semakin penuh kasih, dan semakin penuh arti.

Maka bayi – mahluk yang lemah dan rapuh justru harus mendapat perlindungan sebaik-baiknya. Seharusnya, rahim ibu adalah tempat yang paling aman di dunia ini, karena di sanalah Allah mempercayakan sebuah anugerah kehidupan, untuk dikasihi, dipelihara, dan dikembangkan hingga berbuah limpah bagi kemuliaanNya.

Abortion is not a choice – in fact, murder is never a choice.

Sore itu, di McDonald kami bertiga menundukkan kepala, memohon rahmat Tuhan untuk menjalani hari-hari ke depan dengan tuntunan Roh Kudus, supaya apapun yang terjadi membawa kemuliaan bagi nama Tuhan. Artinya, hidup dalam rahim yang terus berjalan selama beberapa bulan ke depan bukan saja harus dipertahankan, tapi juga diperjuangkan dengan sepenuh hati. Artinya, hidup setelah kelahiran yang mungkin hanya dalam hitungan menit sekalipun, harus mendapatkan perlindungan sebaik mungkin. Justru waktu-waktu singkat ini adalah kesempatan satu-satunya untuk memberikan perhatian yang paling besar, senyum yang paling tulus, dan kasih yang paling hangat.

Maka seperti Yesus yang mulai memberitakan penderitaan yang akan dijalaniNya, begitu juga Bimo dan Ninu, and the little baby, mulai menjalani pergumulan ini. Mereka mulai berjalan mendekati Salib yang memang tidak pernah mudah untuk dipahami oleh hati kita yang rapuh ini.

Doa sore itu diakhiri dengan memohon penyertaan Bunda segala kehidupan, Bunda Maria.

Hail Mary, full of grace, the Lord is with Thee….

(to be continued)