The Grace of Life, the Glory of Easter III


Yesus memilih cawan itu

Di taman Getsemani Yesus tunduk berdoa. Ia tahu pasti apa yang akan terjadi padanya. Kitab Yesaya berkata bahwa ia akan menderita sedemikian hebatnya sampai-sampai rupanya “…bukan seperti manusia lagi” (bdk. Yes 52:14). Yesus punya pilihan untuk lari dari penderitaan, dan mencari yang nyaman, serta jauh dari rasa nyeri. Namun cintaNya terlalu kuat untuk dikalahkan, dan Iapun memilih untuk setia pada kehendak Allah – apa yang baik dan apa yang berkenan di Hati BapaNya.

Di hari Kamis Putih, kisah sengsara Yesus dibacakan. Perjalanan dari taman Getsemani menuju Golgota penuh dengan luka dan darah, karena di dalamnya ada drama penderaan, jatuh berkali-kali, dan bangkit berjalan lagi sampai Salib ditegakkan di atas bukit. Sekalipun jatuh, Yesus tidak pernah menyerah. Tubuhnya letih dan berdarah, namun Ia terus berjalan mendaki bukit pengorbananNya, sampai semua kehendak BapaNya digenapi. Jumat Agung menjadi saksi keagungan cinta yang tergantung di atas kayu Salib. Kayu itu tidak bisa menahan Pencipta Langit dan Bumi, tapi cinta membuatNya kuat bertahan. Paku itu tidak bisa mengikat tangan yang menyembuhkan, tapi justru tanganNya sengaja ia relakan ditembusi paku, supaya oleh bilur-bilurNya kita disembuhkan.

Perasaan Bunda Maria naik turun, saat seorang ibu melihat anaknya sendiri menderita sedemikian hebatnya.

She’s a fighter” kata Ninu, waktu kondisi Grace mulai tidak stabil. Berulangkali kondisinya drop, tapi Grace lalu bangkit dan kembali stabil. Beberapa kali denyut jantung Grace melemah, tapi dikuatkan oleh cinta orangtuanya, lagi-lagi ia kembali normal. Saya tidak tahu harus berdoa apa, apakah supaya mujizat kesembuhan terjadi, atau supaya Grace segera pergi kepada Yesus. Lagi-lagi di tengah ketidakberdayaan, saya mengucap doa Salam Maria… Hail Mary, full of grace… Bunda pasti tahu yang terbaik buat anaknya.

Hari Sabtu sore hati saya terangkat waktu mengikuti Misa Vigili Paskah. Perayaan Paskah dengan upacara pemberkatan lilin dan api di pembukaannya selalu punya arti tersendiri buat saya. Lilin yang ditandai 5 paku dupa sebagai tanda luka-luka Yesus, menjadi lambang yang hidup akan Anak Manusia yang terluka, namun bercahaya bagi dunia. Api ini lalu dibagikan kepada semua umat sehingga kita semua diterangi oleh cahaya Kristus yang memimpin kita menuju pembebasan dari dosa. Sembilan (9) bacaan, atau kadang hanya lima (5) yang dibacakan, selalu membuat hati saya terangkat dan terpesona akan karya penyelamatan Allah bagi umatNya. Begitu pula lilin besar yang dicelupkan ke dalam air sehingga air ini menjadi kudus untuk digunakan dalam memperbaharui janji baptis kita. Ah, how I love Easter Vigil liturgy. Liturgi paskah selalu indah dan kaya akan simbol-simbol yang apabila dihayati dengan sungguh, selalu punya daya ilahi yang menggerakkan hati kita lebih dekat lagi dengan misteri kebangkitan.

Tapi kali ini misteri sengsara dan bangkitnya Yesus menjadi lebih kaya lagi dengan kehadiran baby Grace, yang terus menemani penderitaan Tuhan lewat kondisinya yang naik turun. Malam itu Lia dan saya mampir lagi di Carolus, memandang Grace yang sepertinya semakin lemah, sambil hati ini mengucap lagi Hail Mary, full of grace… I know the heart of Mother Mary is full of prayer for Grace.

Malam itu kami merayakan tirakatan kebangkitan Yesus, what about Grace?

Yesus bangkit

“Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit…” (Mat 28:6)

Ada sebuah lagu lama yang kata-katanya begini “Because He lives I can face tomorrow…and life is worth the living just because He lives”. Tapi bagaimana rasanya menjalani perayaan Paskah dengan seorang anak bayi yang menderita kelainan seperti ini? Apa perbedaannya antara hari-hari sebelum Paskah dan pada hari Paskah, kalau baby Grace tetap berada di dalam inkubator?

Sore itu Bimo, Ninu, Lia, dan saya berada di depan ruang Goretti, bersama Rm. Deshi yang juga datang menjenguk setelah Bimo mengirimkan SMS tentang kondisi Grace yang semakin menurun. Kami bersama meluangkan waktu sambil berdoa, dan mengambil foto-foto Grace dari berbagai sudut. Ia berbaring di dalam inkubator, badannya semakin kecil. Tidak ada yang tahu kapan drama ini akan berakhir, dan entah berakhir seperti apa.

Ada perasaan aneh yang bergerak di dalam hati saya. Di hadapan saya terbaring seorang bayi kecil tidak berdaya. Ia baru saja dibaptis beberapa hari yang lalu, yang membuatnya milik Kerajaan Allah. Tapi ia bukan saja sekedar sebuah bagian dari kerajaan Allah. Kenyataan bahwa ia masih seorang bayi membuatnya belum mampu untuk berbuat dosa sama sekali. Maka yang terbaring di depan saya bukan hanya seorang bayi yang sepertinya tidak berdaya, tapi juga seorang manusia suci yang sudah di-claim sebagai milik Allah, yang tidak bercela sama sekali. Maka dalam arti tertentu ia sungguh suci dan sepenuhnya milik Allah. Dalam arti tertentu ia lebih penuh sebagai milik Allah daripada saya sendiri, yang sudah banyak berbuat dosa. Maka here we were, di depan seorang bayi lemah yang tidak berdaya, tapi juga ketidakberdayaan yang memancarkan kesucian tanpa dosa. Dari dalam ketidakberdayaan tanpa dosa ini, Grace sedang mengajarkan kita semua tentang apa artinya berjuang demi kehidupan.

Tidak berdaya, tidak berdosa, dan menyerukan arti sesungguhnya dari anugerah kehidupan – bukankah itu seperti Yesus yang menderita tergantung di kayu Salib demi kehidupan umat manusia. Di hari Minggu Paskah, dari dalam sebuah inkubator kecil di ruang Goretti, Yesus memancarkan keagunganNya lewat baby Grace Gloria. Baby Grace memiliki tempurung kepala yang tidak sempurna dengan pembetukan otak yang tidak sempurna juga. Tapi dari keadaannya ini misteri Paskah terpancar kuat menembusi hati saya yang begitu rapuh. Di dalam sebuah inkubator kecil, ada kemuliaan Tuhan yang mengambil wujud manusia lemah. Allah yang maha besar memang seringkali memilih apa yang oleh dunia tampaknya kecil, bodoh, dan tidak berdaya untuk menunjukkan misteri kedalaman HatiNya. Tidak heran seringkali Kabar Gembira lebih mudah ditangkap oleh hati-hati yang sederhana.

Malam itu di rumah, sebelum tidur seperti biasa saya membaca sebagian perikop Kitab Suci atau Katekismus Gereja Katolik. Entah kenapa saya tertarik untuk mengambil buku YouCat (Youth Catechism) di sebelah tempat tidur saya. Waktu saya buka, langsung terpampang di hadapan saya sebuah halaman yang membahas tentang hidup kekal. “Eternal life begins with Baptism” demikian kalimat yang di-bold, dan selanjutnya tertera penjelasan tentang rahmat Tuhan dan kehidupan kekal yang Ia janjikan. Tapi kata-kata ini saja cukup membuat hati saya terangkat dan dipenuhi rahmat Tuhan yang begitu mengagumkan itu…bahasa Betawi-nya “amazing grace”. Tujuh hari yang lalu, baby Grace dibaptis, dan buat dia (seperti kita semua yang juga sudah dibaptis), dimulai sudah perjalanan menuju kehidupan yang kekal.  Baptisan bukan cuma sekedar ritual agar ada agama di KTP kita, tapi sungguh-sungguh sebuah pengalaman rahmat yang membuka pintu lebar-lebar akan keabadian bersama Tuhan. Paskah menjadi tanda bahwa kekekalan itu sungguh nyata, sebab kematian tidak punya kuasa lagi. Yesus bangkit mengalahkan dosa dan kematian, membuka pintu sorga lebar-lebar bagi semua orang yang telah dibaptis dan memperjuangkan hidupnya dengan penuh iman dan perbuatan kasih. Hai maut, di manakah sengatmu? Santa Teresa Avila mengatakan “Suffering is a great favor. Remember that everything soon comes to an end . . . and take courage. … Pain is never permanent… Truth suffers, but never dies… Think of how our gain is eternal.”

Saya tidak sadar bahwa bersama kutipan dari Youth Catechism itu, Tuhan sedang mempersiapkan jalan bagi baby Grace untuk beralih menuju hidup yang sesungguhnya, yang tidak ada penderitaan dan air mata lagi, yang kekal bersama Dia.

(to be continued)