The Grace of Life, the Glory of Easter IV

Yesus dan Grace Gloria

Hari Senin malam, beberapa sahabat cordisian yang tergabung dalam Youth Mission 4 Life (YM4L) mengikuti sessi tentang Humanae Vitae oleh Rm.Deshi Ramadhani, SJ, di sebuah kursus yang diadakan oleh TOBIT (Theology Of the Body InsighT), salah satu kerasulan Domus Cordis, komunitas kami. Humanae Vitae adalah ensiklik yang ditulis oleh Paus Paulus VI tentang sakralnya hidup manusia, dan bagaimana kita dipanggil untuk berjuang demi anugerah kehidupan ini. Sesudah itu, kami pergi bersama Rm. Paulus Dwiyaminarta, CSsR, salah satu pendamping komunitas kami, untuk ngobrol-ngobrol tentang YM4L. Saat sedang ngobrol sebuah pesan singkat dari Bimo masuk “Grace sudah pulang…”

Malam itu beberapa dari kami bergegas ke Rs. Carolus, tepatnya rumah duka Carolus. Karena rumah duka penuh, maka tubuh baby Grace dibaringkan di ruang transit untuk satu malam saja, sebelum keesokan harinya dibawa ke Bogor dan dimakamkan di pemakaman keluarga. Again, she looked so cute. Dibalut selimut kuning dan topi kuning, Grace tampak tersenyum. Lia bilang “It’s a good fight GraceYup, it is finished. Apapun misinya, misi itu telah selesai. Di hati saya terbersit sebuah ide. Mungkin Grace yang justru sedang berkata ke kita semua di sekeliling peti itu “No, I’m just a baby with a mission. It’s a good fight that you guys have been doing. Please keep on doing it for other lives…”

Malam itu Lia dan saya pulang, dan sebelum tidur kami siapkan teks lagu untuk Misa Requiem paginya.

Pukul 7.30 kami berdiri di depan peti kecil Grace, lagu Amazing Grace dinyanyikan, dan Rm. Deshi berjalan menuju meja altar kecil yang sudah disiapkan di sebelah peti. Amazing grace how sweet the sound, that saved a wretch like me. I once was lost but now I’m found, was blind but now I see. Yup, rahmat Tuhan memang mengagumkan, se-mengagumkan bayi kecil tidak berdaya, yang dipakai Allah untuk menyerukan anugerah kehidupan. Saat homili, Rm.Deshi mengatakan bahwa Bimo dan Ninu telah menang, karena memilih untuk bersama Yesus sendiri memperjuangkan kehidupan. Di benak saya terbayang baby Grace yang untuk pertama kalinya ikut Misa. Hati kita yang berdosa saja kadang begitu “terangkat” waktu Allah hadir dalam Ekaristi, apalagi Grace yang tanpa dosa. Betapa hatinya pasti begitu penuh dengan sukacita dan cinta Tuhan. Maka sekali lagi kita semua bernyanyi …Betapa ajaib dan dahsyatNya Tuhan kejadianku, Kau menenun diriku serupa gambaranMu, sungguh berharga di mataMu Tuhan kehidupanku, kau membawa hatiku mendekat erat dengan hatiMu…

…dan tubuh Grace-pun diberangkatkan ke Bogor, dan dimakamkan di sana. Tapi rohnya telah terbang bersama Yesus. Lewat sakramen baptis dan kematian, ia telah memasuki kehidupan yang sesungguhnya.

Beberapa catatan terakhir

Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Segala sesuatu diciptakan oleh Tuhan dengan maksud dan tujuan tertentu, yang semuanya menunjuk pada keilahian Allah sendiri. Paskah menjadi perayaan besar, sebab pintu gerbang kehidupan yang sesungguhnya terbuka lebar bagi semua yang telah mati dan bangkit bersama Yesus. Kegelapan malam telah dihalau oleh cahaya terang dari makam yang terbuka. Keputusasaan digantikan oleh harapan yang hidup bersama dengan bangkitnya Anak Manusia. Hidup yang fana di dunia ini telah digantikan oleh hidup yang kekal dalam kemuliaan Sang Pencipta Kehidupan.

Sebab semua orang yang dipilihNya dari semula, mereka juga ditentukan dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran anakNya, supaya Ia anakNya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukanNya dari semula, mereka itu juga dipanggilNya. Dan mereka yang dipanggilNya, mereka itu juga dibenarkanNya. Dan mereka yang dibenarkanNya, mereka itu juga dimuliakanNya (Rm 8:29-30).

Sejak usia 5 bulan dalam kandungan Ninu, baby Grace Gloria telah diundang untuk bersatu dengan Yesus yang memberitakan penderitaanNya. Hari itu Hail Mary full of grace… pertama kali diangkat untuk mempersembahkan hidup yang rapuh ke dalam doa dan perlindungan Bunda Maria. Maria adalah a Mother who is full of grace, yang selalu setia menghantar kita semua pada Salib dan bahkan kemuliaan Puteranya. And so in her maternal love, the baby was named Grace Gloria.

Bimo dan Ninu tinggal di kamar Santo Josef, seorang santo pelindung kehidupan yang menjaga Maria dan bayi Yesus sendiri dalam pelarian dari Herodes. Bukan hanya itu, karena ia meninggal dunia didampingi oleh Maria dan Yesus sendiri, maka St.Yosef juga adalah santo pelindung orang-orang yang sedang dalam keadaan mendekati kematian. Apakah kebetulan keluarga dengan bayi beresiko ini ada di dalam kamar St.Yosef?

Di ruang atas, di kamar Goretti, baby Grace terbaring dengan segala alat bantunya, menghabiskan waktu-waktu terakhirnya bersama Bimo dan Ninu – seperti di ruang atas Yesus menghabiskan waktu-waktu intim dan detik-detik terakhir bersama para sahabatNya.

Santa Maria Goretti adalah salah satu orang kudus termuda yang digelari santa, dan sekaligus salah satu pelindung orang muda. Tidak ada satu katapun yang terucap oleh baby Grace selain tangisan pendek di hari kelahirannya. Begitu juga tidak ada satupun kata yang diucapkan oleh Santa Maria Goretti yang dicatat dalam sejarah, namun perjuangan mempertahankan kesuciannya bagi Allah menjadi inspirasi bagi banyak wanita-wanita muda yang mau hidup suci bagi Allah dan GerejaNya.

Bagi saya, yang paling indah dari kehidupan Grace adalah masa hidupnya. Hari Minggu Palma kita merayakan Yesus yang memasuki Yerusalem untuk menjalani hari-hari terakhirNya di dunia ini. Yesus secara istimewa mengajak Grace menemaniNya di Yerusalem, menderita hingga wafat di puncak Kalvari. Hari Minggu Paskah kita merayakan Yesus yang bangkit dari kubur untuk mewartakan harapan akan hidup yang kekal. Sehari sesudahnya, Grace meninggal dunia. Sekali lagi Yesus secara istimewa mengajak Grace menemaninya bangkit untuk memasuki hidup yang kekal. Selama pekan suci Grace ada bersama kami semua. Ia yang telah bersatu dengan penderitaanNya, ia yang telah bersatu dengan kematianNya, tidak pernah ditinggakan sendirian di dalam kubur. Enam hari usia hidup Grace di dunia ini, dan di hari ketujuh ia memasuki hidup yang kekal bersama Tuhan. Bagi orang yang percaya, kematian tidak pernah menjadi akhir dari perjalanan hidup kita. Justru di balik kematian, ada hidup yang lebih penuh, lebih bahagia, dan lebih mulia. Grace menujukkan ini dengan jelas, justru setelah ia menghembuskan nafasnya yang terakhir di dunia ini. Yes, malam itu ada satu pesan penting lagi yang Grace ingin sampaikan ke kita semua, pesan terakhirnya.

Semua ruang di rumah duka penuh, yang tersisa tinggal ruang transit bagi jenasah. Hati saya tersenyum waktu mendengar berita ini. Berita penderitaan, drama penderaan, dan situasi ketidakberdayaan kita, waktu berhadapan pada cemerlangnya Paskah, mau tidak mau akan menggemakan di hati kita semua bahwa hidup di dunia ini cuma sekedar transit. Ada yang jauh lebih penting dan lebih mulia di balik semua pergumulan dan pengharapan kita. Anugerah kehidupan memang sungguh berharga, tapi anugerah ini baru mencapai kesempurnaannya waktu dipersatukan dengan Kristus yang bangkit dan mengundang kita masuk ke dalam kekekalan bersama Dia. Semua yang kita hadapi hari ini, entah itu sakit, sehat, miskin, kaya, sedih, susah, semuanya hanya sementara, bahkan dibandingkan dengan kekekalan, semuanya amat sangat singkat. Waktu berlalu dengan cepat, dan hidup yang kita jalani ini sungguh rapuh. Kekuatan yang sesungguhnya terletak pada pilihan-pilihan yang kita buat di waktu hidup yang singkat ini, sebab saat inilah kita meletakkan dasar-dasar bagi hidup kita di dunia mendatang. Hidup di dunia ini cuma transit, kata Grace – dan Grace pun cuma mampir sebentar untuk mengajarkan kita arti berjuang demi kehidupan yang penuh cinta dan pengharapan, lalu iapun berlalu bersama Yesus, pencipta dan kekasih sejati hatinya. When together with Jesus we fight for life, we gain eternal life.

This is the story of grace – the grace of Life.

This is the story of glory – the glory of Easter.

This is the story of Grace Gloria.

(end)

Advertisements

The Grace of Life, the Glory of Easter III


Yesus memilih cawan itu

Di taman Getsemani Yesus tunduk berdoa. Ia tahu pasti apa yang akan terjadi padanya. Kitab Yesaya berkata bahwa ia akan menderita sedemikian hebatnya sampai-sampai rupanya “…bukan seperti manusia lagi” (bdk. Yes 52:14). Yesus punya pilihan untuk lari dari penderitaan, dan mencari yang nyaman, serta jauh dari rasa nyeri. Namun cintaNya terlalu kuat untuk dikalahkan, dan Iapun memilih untuk setia pada kehendak Allah – apa yang baik dan apa yang berkenan di Hati BapaNya.

Di hari Kamis Putih, kisah sengsara Yesus dibacakan. Perjalanan dari taman Getsemani menuju Golgota penuh dengan luka dan darah, karena di dalamnya ada drama penderaan, jatuh berkali-kali, dan bangkit berjalan lagi sampai Salib ditegakkan di atas bukit. Sekalipun jatuh, Yesus tidak pernah menyerah. Tubuhnya letih dan berdarah, namun Ia terus berjalan mendaki bukit pengorbananNya, sampai semua kehendak BapaNya digenapi. Jumat Agung menjadi saksi keagungan cinta yang tergantung di atas kayu Salib. Kayu itu tidak bisa menahan Pencipta Langit dan Bumi, tapi cinta membuatNya kuat bertahan. Paku itu tidak bisa mengikat tangan yang menyembuhkan, tapi justru tanganNya sengaja ia relakan ditembusi paku, supaya oleh bilur-bilurNya kita disembuhkan.

Perasaan Bunda Maria naik turun, saat seorang ibu melihat anaknya sendiri menderita sedemikian hebatnya.

She’s a fighter” kata Ninu, waktu kondisi Grace mulai tidak stabil. Berulangkali kondisinya drop, tapi Grace lalu bangkit dan kembali stabil. Beberapa kali denyut jantung Grace melemah, tapi dikuatkan oleh cinta orangtuanya, lagi-lagi ia kembali normal. Saya tidak tahu harus berdoa apa, apakah supaya mujizat kesembuhan terjadi, atau supaya Grace segera pergi kepada Yesus. Lagi-lagi di tengah ketidakberdayaan, saya mengucap doa Salam Maria… Hail Mary, full of grace… Bunda pasti tahu yang terbaik buat anaknya.

Hari Sabtu sore hati saya terangkat waktu mengikuti Misa Vigili Paskah. Perayaan Paskah dengan upacara pemberkatan lilin dan api di pembukaannya selalu punya arti tersendiri buat saya. Lilin yang ditandai 5 paku dupa sebagai tanda luka-luka Yesus, menjadi lambang yang hidup akan Anak Manusia yang terluka, namun bercahaya bagi dunia. Api ini lalu dibagikan kepada semua umat sehingga kita semua diterangi oleh cahaya Kristus yang memimpin kita menuju pembebasan dari dosa. Sembilan (9) bacaan, atau kadang hanya lima (5) yang dibacakan, selalu membuat hati saya terangkat dan terpesona akan karya penyelamatan Allah bagi umatNya. Begitu pula lilin besar yang dicelupkan ke dalam air sehingga air ini menjadi kudus untuk digunakan dalam memperbaharui janji baptis kita. Ah, how I love Easter Vigil liturgy. Liturgi paskah selalu indah dan kaya akan simbol-simbol yang apabila dihayati dengan sungguh, selalu punya daya ilahi yang menggerakkan hati kita lebih dekat lagi dengan misteri kebangkitan.

Tapi kali ini misteri sengsara dan bangkitnya Yesus menjadi lebih kaya lagi dengan kehadiran baby Grace, yang terus menemani penderitaan Tuhan lewat kondisinya yang naik turun. Malam itu Lia dan saya mampir lagi di Carolus, memandang Grace yang sepertinya semakin lemah, sambil hati ini mengucap lagi Hail Mary, full of grace… I know the heart of Mother Mary is full of prayer for Grace.

Malam itu kami merayakan tirakatan kebangkitan Yesus, what about Grace?

Yesus bangkit

“Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit…” (Mat 28:6)

Ada sebuah lagu lama yang kata-katanya begini “Because He lives I can face tomorrow…and life is worth the living just because He lives”. Tapi bagaimana rasanya menjalani perayaan Paskah dengan seorang anak bayi yang menderita kelainan seperti ini? Apa perbedaannya antara hari-hari sebelum Paskah dan pada hari Paskah, kalau baby Grace tetap berada di dalam inkubator?

Sore itu Bimo, Ninu, Lia, dan saya berada di depan ruang Goretti, bersama Rm. Deshi yang juga datang menjenguk setelah Bimo mengirimkan SMS tentang kondisi Grace yang semakin menurun. Kami bersama meluangkan waktu sambil berdoa, dan mengambil foto-foto Grace dari berbagai sudut. Ia berbaring di dalam inkubator, badannya semakin kecil. Tidak ada yang tahu kapan drama ini akan berakhir, dan entah berakhir seperti apa.

Ada perasaan aneh yang bergerak di dalam hati saya. Di hadapan saya terbaring seorang bayi kecil tidak berdaya. Ia baru saja dibaptis beberapa hari yang lalu, yang membuatnya milik Kerajaan Allah. Tapi ia bukan saja sekedar sebuah bagian dari kerajaan Allah. Kenyataan bahwa ia masih seorang bayi membuatnya belum mampu untuk berbuat dosa sama sekali. Maka yang terbaring di depan saya bukan hanya seorang bayi yang sepertinya tidak berdaya, tapi juga seorang manusia suci yang sudah di-claim sebagai milik Allah, yang tidak bercela sama sekali. Maka dalam arti tertentu ia sungguh suci dan sepenuhnya milik Allah. Dalam arti tertentu ia lebih penuh sebagai milik Allah daripada saya sendiri, yang sudah banyak berbuat dosa. Maka here we were, di depan seorang bayi lemah yang tidak berdaya, tapi juga ketidakberdayaan yang memancarkan kesucian tanpa dosa. Dari dalam ketidakberdayaan tanpa dosa ini, Grace sedang mengajarkan kita semua tentang apa artinya berjuang demi kehidupan.

Tidak berdaya, tidak berdosa, dan menyerukan arti sesungguhnya dari anugerah kehidupan – bukankah itu seperti Yesus yang menderita tergantung di kayu Salib demi kehidupan umat manusia. Di hari Minggu Paskah, dari dalam sebuah inkubator kecil di ruang Goretti, Yesus memancarkan keagunganNya lewat baby Grace Gloria. Baby Grace memiliki tempurung kepala yang tidak sempurna dengan pembetukan otak yang tidak sempurna juga. Tapi dari keadaannya ini misteri Paskah terpancar kuat menembusi hati saya yang begitu rapuh. Di dalam sebuah inkubator kecil, ada kemuliaan Tuhan yang mengambil wujud manusia lemah. Allah yang maha besar memang seringkali memilih apa yang oleh dunia tampaknya kecil, bodoh, dan tidak berdaya untuk menunjukkan misteri kedalaman HatiNya. Tidak heran seringkali Kabar Gembira lebih mudah ditangkap oleh hati-hati yang sederhana.

Malam itu di rumah, sebelum tidur seperti biasa saya membaca sebagian perikop Kitab Suci atau Katekismus Gereja Katolik. Entah kenapa saya tertarik untuk mengambil buku YouCat (Youth Catechism) di sebelah tempat tidur saya. Waktu saya buka, langsung terpampang di hadapan saya sebuah halaman yang membahas tentang hidup kekal. “Eternal life begins with Baptism” demikian kalimat yang di-bold, dan selanjutnya tertera penjelasan tentang rahmat Tuhan dan kehidupan kekal yang Ia janjikan. Tapi kata-kata ini saja cukup membuat hati saya terangkat dan dipenuhi rahmat Tuhan yang begitu mengagumkan itu…bahasa Betawi-nya “amazing grace”. Tujuh hari yang lalu, baby Grace dibaptis, dan buat dia (seperti kita semua yang juga sudah dibaptis), dimulai sudah perjalanan menuju kehidupan yang kekal.  Baptisan bukan cuma sekedar ritual agar ada agama di KTP kita, tapi sungguh-sungguh sebuah pengalaman rahmat yang membuka pintu lebar-lebar akan keabadian bersama Tuhan. Paskah menjadi tanda bahwa kekekalan itu sungguh nyata, sebab kematian tidak punya kuasa lagi. Yesus bangkit mengalahkan dosa dan kematian, membuka pintu sorga lebar-lebar bagi semua orang yang telah dibaptis dan memperjuangkan hidupnya dengan penuh iman dan perbuatan kasih. Hai maut, di manakah sengatmu? Santa Teresa Avila mengatakan “Suffering is a great favor. Remember that everything soon comes to an end . . . and take courage. … Pain is never permanent… Truth suffers, but never dies… Think of how our gain is eternal.”

Saya tidak sadar bahwa bersama kutipan dari Youth Catechism itu, Tuhan sedang mempersiapkan jalan bagi baby Grace untuk beralih menuju hidup yang sesungguhnya, yang tidak ada penderitaan dan air mata lagi, yang kekal bersama Dia.

(to be continued)

The Grace of Life, The Glory of Easter II

Yesus memasuki Yerusalem

Siang itu, Lia istri saya, dan saya, memasuki gedung gereja sambil menyanyikan lagu “Yerusalem… Yerusalem, lihatlah RajaMu…” Setelah beberapa minggu menjalani masa pantang dan puasa, hari itu umat Allah mengenang Yesus yang duduk di atas keledai, memasuki kota Yerusalem. Kerumunan orang banyak melambaikan daun palma menyambut kedatangan Mesias ini di kota mereka. Sorak sorai terdengar sepanjang jalan, dan orang-orang berdesakan ingin melihat Anak Manusia ini. Tidak ada yang tahu drama besar yang akan terjadi minggu itu, bahkan para rasulpun tidak tahu. Entah apa yang terbayang di benak Yesus saat itu; sukacita atas umatNya, atau nyeri yang mulai menyelinap terasa di hatiNya karena tahu bahwa waktunya sudah dekat, bahkan sudah sangat dekat. Penderitaan yang Ia beritakan beberapa waktu yang lalu akan segera digenapi. “Sekali-sekali hal itu tidak akan terjadi padaMu” demikian kata Petrus waktu mendengar pemberitahuan Yesus tentang penderitaan yang akan dideritaNya. Atau bagaimana dengan tanggapan ibu anak-anak Zebedeus “Bolehkah kedua anakku ini kelak di kerajaanMu duduk di sebelah kananMu dan di sebelah kiriMu?” Aahh, they are all missing the whole point of Jesus’ suffering. Yang satu menolak penderitaan mulia, yang lain sibuk dengan posisi yang mau mereka kejar. But who can comprehend the mystery and the glory of your suffering Lord?

Seninnya saya mendapat BBM dari Bimo. “Sudah mulai masuk minggu ke-42, malam ini Ninu akan masuk Carolus dan besok pagi caesar”. Bimo telah meminta saya sebelumnya untuk menjadi wali baptis buat Grace Gloria – that’s the baby’s name.

The time has come.

Sore itu saya berusaha menghubungi Rm.Deshi Ramadhani, SJ, untuk mengajaknya datang ke Carolus dan berdoa bersama, tapi ternyata ia sedang berada di Bandungan. Maka malam itu saya menjemput Rm. Nugie, SJ, di rumah Jesuit di Jl. Johar, dan bersama Lia kami mengunjungi Bimo dan Ninu. Malam itu Bimo dan Ninu bermalam di kamar Josef – santo pelindung keluarga. Di kamar itu kami ngobrol-ngobrol, dan kemudian menutup malam dengan doa dan berkat oleh Rm.Nugie.

Besoknya jam 7.30, bersama kedua orang tua Bimo dan Ninu, kami sudah stand by di Carolus untuk  menunggu Ninu menjalani operasi Caesar dan segera sesudahnya membaptis Grace. Setelah menanti sekitar 30 menit di ruang tunggu, pintu Recovery Room dibuka dan kami diijinkan masuk untuk upacara Baptis.

Baby Grace looked so cute berwarna putih kemerahan. Ia terbaring dalam sebuah inkubator dengan bagian kepala yang ditutupi. Dengan penutup kepala ini, orang tidak akan menyadari bahwa ia menderita anenchepaly. Tangisannya terdengar seperti bayi sehat biasa, dan gerakan tangannya yang kecil seperti mau menunjukkan kepada semua orang “It’s ok, I’m fine.” Rm. Nugie memimpin doa ibadat singkat, lalu memasukkan tangannya ke dalam inkubator sambil mengucapkan “Aku membaptis kamu, demi nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus” Setitik air suci direciki di dahi Grace yang kecil, dan kepalanya mengangguk kecil seolah mengucapkan “Amin…”. Di menit-menit yang berharga itu, melalui Sakramen Baptis, baby Grace di-claim menjadi milik Tuhan yang ditebus oleh kematian dan kebangkitan Yesus, serta menjadi anggota terbaru dari keluarga besar Kerajaan Allah. Di ruang sederhana itu didaraskan doa yang sederhana juga, namun punya kekuatan seluruh Sorga yang bersorak-sorai karena satu anak lagi, satu kehidupan lagi diperjuangkan dan dipersembahkan bagi Allah. Glory is His name! (and Glory is her name too – Grace Gloria!)

Hari itu, di FB Bimo tertulis “Hari ini telah lahir Grace Gloria. Seorang anak pejuang kehidupan. Karena berkatNya kami dikuatkan. Dan untuk kemuliaan Tuhan-lah ia hadir.”

Yesus meluangkan waktu dengan murid-muridNya

Pekan Suci adalah minggu tersuci di sepanjang tahun liturgi Gereja. Di minggu ini, semua umat Allah diundang untuk mendekatkan diri kepada Yesus yang memilih untuk menderita demi cintaNya yang besar atas umat manusia kesayanganNya. “…Yesus telah tahu bahwa saatNya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa…”(Yoh 13:1) dan Iapun meluangkan waktu-waktu terakhirNya bersama para rasul. Di sebuah ruang atas (bdk. Mrk 14:15) di Yerusalem, Yesus berpesan “Janganlah gelisah hatimu…” (Yoh 14:1).

“…Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepadaNya. Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepadaKu untuk melakukannya. Oleh sebab itu ya Bapa, permuliakanlah Aku padaMu sendiri dengan kemuliaan yang telah Kumiliki di hadiratMu sebelu dunia ada” (Yoh 17:1-5)

Juga di sebuah ruang atas, Grace dibaringkan di sebuah inkubator, di ruang Goretti. Bagian atas kepala Grace ditutup dengan kasa, dan ia diberi bantuan selang oksigen serta sonde untuk makanan. Sehari-hari kondisinya terlihat cukup stabil, dan keluarga terus mendukung dengan doa yang tak kunjung putus. Kasih seperti ini menampakkan kemuliaan Allah yang hadir dengan sederhana namun begitu kuatnya.

…Bukan untuk dunia Aku berdoa, tapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku,…dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka” (bdk. Yoh 17:9-10).

Beberapa foto dan video clip dikirimkan oleh Bimo untuk memperlihatkan baby Grace yang terus mau berjuang untuk hidup dan meluangkan waktu-waktu berharganya bersama keluarga yang mencintainya. Bila diputarkan lagu anak-anak seperti Twinkle twinkle, ia tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Tapi begitu diperdengarkan lagu Erat Dengan HatiMu, baby Grace memberikan response dengan gerakan-gerakan tertentu. Sepertinya ia tahu benar lirik lagu itu …betapa ajaib dan dahsyatnya Tuhan kejadianku, Kau menenun diriku serupa gambaranMu, sungguh berharga di mataMu Tuhan kehidupanku, Kau membawa hatiku mendekat erat dengan hatiMu… Berapa banyak yang sungguh menyadari ini, atau kita cuma sekedar take it for granted akan hidup kita? Mungkin perlu seorang anencephalic baby untuk mengingatkan betapa hidup kita berharga di mata Tuhan.

Sekali waktu saya sedang di kamar bersama Lia dan Ninu, sementara Bimo sedang Misa di kapel Carolus. Ninu bilang “Bimbim terus ada di dekat Grace karena dia nggak mau kehilangan moment…”

(to be continued)