Banjir Jakarta 2007

flood1-no-frame.jpgBanjir Jakarta memaksa Lia dan saya mengungsi ke rumah Mike – Ministry Coordinator pelayanan bidang multimedia komunitas kami. Tapi di tengah-tengah kegelapan malam karena mati lampu, dan di tengah-tengah deru hujan deras yang tak kunjung berhenti, Tuhan mengingatkan saya akan peristiwa-peristiwa air yang terjadi ribuan tahun yang lalu.

Peristiwa air yang bisa jadi bencana bagi banyak orang, bisa juga menjadi berkat bagi orang-orang percaya. 

Waktu hujan mulai turun tanpa henti membasahi bumi pada jaman Nuh, kepanikkan yang dirasakan penduduk sangat bisa dimengerti. Betapa tidak, untuk pertama kalinya mereka mengalami hujan yang sedemikian derasnya. Ketika air mulai menggenang di mana-mana, anak-anak mulai berlari-lari kegirangan. Ketika ketinggian air mencapai lutut, anak-anak masih bermain dengan riang gembira, sementara para orang tua mulai berjaga-jaga. Namun ketika riak gelombang air mencapai separuh badan, derasnya hujan mulai tersaingi oleh derasnya rasa panik yang membayangi penduduk setempat. Tak ada lagi senda gurau anak-anak, dan tak ada lagi raut senyum di wajah orangtua mereka. Semua merasa takut, dan semua mulai membayangkan hari esok yang tidak menentu… 

Waktu derap pasukan Firaun terdengar semakin dekat, suara nyanyian dan senda gurau bangsa Israel juga mulai mereda. Kebebasan yang sepertinya sudah diambang mata, dapat segera berubah dalam sekejab. Bukan karena mereka tidak bisa lari, tapi karena dihadapan mereka terpampang lautan raya. Ini bukan soal mengubah tongkat menjadi ular, ini juga bukan soal air yang bisa berubah menjadi darah, bahkan ini juga bukan soal nyawa anak sulung semata – seperti yang terjadi sebelum hijrah besar-besaran ini. Kali ini, ada jutaan hidup yang terhimpit antara kejaran penindasan dan dunia air tanpa batas. Ketika pasukan semakin mendekat, suara derap kuda yang bersahutan dengan ombak lautan mulai tersaingi dengan suara kepanikan yang melanda jutaan rakyat. Jangankan hari esok, hari inipun belum tentu bisa lewat dengan selamat… 

Nuh takut. Musa juga takut.

Tapi mereka juga punya kesamaan lain. Mereka memilih untuk percaya pada Tuhan yang lebih besar daripada segala ketakutan mereka. Sekalipun aku berjalan melewati lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Tuhan besertaku…Seorang bijaksana pernah berkata: Semua orang pasti mengalami rasa takut. Orang berani hanyalah orang takut, yang berjalan terus maju menghadapi dan melewati ketakutannya. 

Nuh berjalan terus menghadapi cemoohan orang, dan saat rasa takut mulai mendekat, sebuah perahu besar di atas gunung perlahan mulai terangkat dan bergerak di atas air. Saat bencana besar datang, bahtera kayu yang besar membawa orang-orang percaya berlayar menuju hari esok yang baru, yang Tuhan sendiri sediakan. 40 hari kemudian, bahtera ini mendarat di sebuah bukit. Dan Allah menciptakan langit dan bumi yang baru… 

Musa tahu bahwa dirinya tidak pandai berbicara. Tapi hatinya yang takut telah belajar bergantung pada kekuatan Tuhannya. Tangannya memegang tongkat dan terangkat tinggi tinggi, setinggi hatinya yang berharap pada belaskasihan Tuhan. Lautan terbelah. Bangsa Israel berjalan di tengah-tengah lautan. Pasukan Firaun terendam air. Dan Allah memulai perjalanan yang baru, penyertaanNya yang penuh kuasa, menuju tanah yang berlimpah susu dan madunya… 

2 peristiwa, 2 tokoh yang berbeda, tapi keduanya adalah peristiwa air.

  1. Air bah tetap datang, tapi orang percaya tidak tenggelam. Mereka berlayar di atas air yang membawa mereka pada pelangi cinta Tuhan.
  2. Air laut tetap bergelora dan gelombang besar tetap bergemuruh, tapi orang percaya tidak tenggelam. Mereka berdoa, dan gelombang besar membelah samudera raya supaya orang percaya bisa berjalan di tengah-tengahnya. Gelombang besar kembali bergulung menenggelamkan firaun-firaun kehidupan, tapi orang percaya sudah jauh aman di depan, dengan penuh penyertaan kuasa Tuhan, berjalan menuju tanah perjanjian yang sentosa.

 2 peristiwa, 2 tokoh yang berbeda, tapi keduanya tidak lari dari tantangan dan pergumulan. Mereka justru memilih untuk melangkah masuk ke dalam ketakutan mereka bersama dengan Tuhan yang Maha Besar. Mereka melebarkan sayap-sayap iman mereka sekuat hati, menerobos masuk ke tengah-tengah samudera raya yang terbelah, serta keluar dengan selamat dan berkemenangan bersama Tuhan. 

Dan jangan lupa. Setelah melewati air bah, ada berkat langit yang baru dan bumi yang baru, bahkan ada meterai janji Tuhan di langit berupa pelangi cintaNya yang kekal. Setelah melewati samudera raya, ada berkat tanah perjanjian yang subur – yang  melimpah susu dan madunya – yang Tuhan sendiri sediakan bagi orang-orang yang percaya. 

Hari ini, kalau ada air bah dalam hidupmu – pilihlah untuk tetap percaya.

Hari ini, kalau ada ancaman mengejarmu dan samudera raya yang dalam di depanmu – pilihlah untuk mengangkat hatimu tinggi-tinggi dan terus berjalan maju bersama Tuhan, sebab orang percaya akan melihat mujizat besar Tuhan terjadi dalam hidupnya. 

Dan jangan lupa. Persiapkan hati dan hidupmu untuk berkat yang besar, yang Tuhan sediakan hanya bagi orang-orang yang percaya. Dia Allah yang sama: dulu, sekarang, dan selama-lamanya. Masih ada langit dan bumi yang baru buat anda, masih ada pelangi cinta yang kekal buat anda, masih ada tanah yang berlimpah susu madunya buat anda – dan buat orang-orang yang anda kasihi!  

Masih ada mujizat besar buat anda – buat semua orang yang memilih untuk percaya. 

Hari ini, kalau ada bencana banjir besar di Jakarta, atau banjir masalah apapun dalam hidup ini, anda tau pilihan yang harus anda buat!

Advertisements