The Grace of Life, The Glory of Easter II

Yesus memasuki Yerusalem

Siang itu, Lia istri saya, dan saya, memasuki gedung gereja sambil menyanyikan lagu “Yerusalem… Yerusalem, lihatlah RajaMu…” Setelah beberapa minggu menjalani masa pantang dan puasa, hari itu umat Allah mengenang Yesus yang duduk di atas keledai, memasuki kota Yerusalem. Kerumunan orang banyak melambaikan daun palma menyambut kedatangan Mesias ini di kota mereka. Sorak sorai terdengar sepanjang jalan, dan orang-orang berdesakan ingin melihat Anak Manusia ini. Tidak ada yang tahu drama besar yang akan terjadi minggu itu, bahkan para rasulpun tidak tahu. Entah apa yang terbayang di benak Yesus saat itu; sukacita atas umatNya, atau nyeri yang mulai menyelinap terasa di hatiNya karena tahu bahwa waktunya sudah dekat, bahkan sudah sangat dekat. Penderitaan yang Ia beritakan beberapa waktu yang lalu akan segera digenapi. “Sekali-sekali hal itu tidak akan terjadi padaMu” demikian kata Petrus waktu mendengar pemberitahuan Yesus tentang penderitaan yang akan dideritaNya. Atau bagaimana dengan tanggapan ibu anak-anak Zebedeus “Bolehkah kedua anakku ini kelak di kerajaanMu duduk di sebelah kananMu dan di sebelah kiriMu?” Aahh, they are all missing the whole point of Jesus’ suffering. Yang satu menolak penderitaan mulia, yang lain sibuk dengan posisi yang mau mereka kejar. But who can comprehend the mystery and the glory of your suffering Lord?

Seninnya saya mendapat BBM dari Bimo. “Sudah mulai masuk minggu ke-42, malam ini Ninu akan masuk Carolus dan besok pagi caesar”. Bimo telah meminta saya sebelumnya untuk menjadi wali baptis buat Grace Gloria – that’s the baby’s name.

The time has come.

Sore itu saya berusaha menghubungi Rm.Deshi Ramadhani, SJ, untuk mengajaknya datang ke Carolus dan berdoa bersama, tapi ternyata ia sedang berada di Bandungan. Maka malam itu saya menjemput Rm. Nugie, SJ, di rumah Jesuit di Jl. Johar, dan bersama Lia kami mengunjungi Bimo dan Ninu. Malam itu Bimo dan Ninu bermalam di kamar Josef – santo pelindung keluarga. Di kamar itu kami ngobrol-ngobrol, dan kemudian menutup malam dengan doa dan berkat oleh Rm.Nugie.

Besoknya jam 7.30, bersama kedua orang tua Bimo dan Ninu, kami sudah stand by di Carolus untuk  menunggu Ninu menjalani operasi Caesar dan segera sesudahnya membaptis Grace. Setelah menanti sekitar 30 menit di ruang tunggu, pintu Recovery Room dibuka dan kami diijinkan masuk untuk upacara Baptis.

Baby Grace looked so cute berwarna putih kemerahan. Ia terbaring dalam sebuah inkubator dengan bagian kepala yang ditutupi. Dengan penutup kepala ini, orang tidak akan menyadari bahwa ia menderita anenchepaly. Tangisannya terdengar seperti bayi sehat biasa, dan gerakan tangannya yang kecil seperti mau menunjukkan kepada semua orang “It’s ok, I’m fine.” Rm. Nugie memimpin doa ibadat singkat, lalu memasukkan tangannya ke dalam inkubator sambil mengucapkan “Aku membaptis kamu, demi nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus” Setitik air suci direciki di dahi Grace yang kecil, dan kepalanya mengangguk kecil seolah mengucapkan “Amin…”. Di menit-menit yang berharga itu, melalui Sakramen Baptis, baby Grace di-claim menjadi milik Tuhan yang ditebus oleh kematian dan kebangkitan Yesus, serta menjadi anggota terbaru dari keluarga besar Kerajaan Allah. Di ruang sederhana itu didaraskan doa yang sederhana juga, namun punya kekuatan seluruh Sorga yang bersorak-sorai karena satu anak lagi, satu kehidupan lagi diperjuangkan dan dipersembahkan bagi Allah. Glory is His name! (and Glory is her name too – Grace Gloria!)

Hari itu, di FB Bimo tertulis “Hari ini telah lahir Grace Gloria. Seorang anak pejuang kehidupan. Karena berkatNya kami dikuatkan. Dan untuk kemuliaan Tuhan-lah ia hadir.”

Yesus meluangkan waktu dengan murid-muridNya

Pekan Suci adalah minggu tersuci di sepanjang tahun liturgi Gereja. Di minggu ini, semua umat Allah diundang untuk mendekatkan diri kepada Yesus yang memilih untuk menderita demi cintaNya yang besar atas umat manusia kesayanganNya. “…Yesus telah tahu bahwa saatNya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa…”(Yoh 13:1) dan Iapun meluangkan waktu-waktu terakhirNya bersama para rasul. Di sebuah ruang atas (bdk. Mrk 14:15) di Yerusalem, Yesus berpesan “Janganlah gelisah hatimu…” (Yoh 14:1).

“…Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepadaNya. Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepadaKu untuk melakukannya. Oleh sebab itu ya Bapa, permuliakanlah Aku padaMu sendiri dengan kemuliaan yang telah Kumiliki di hadiratMu sebelu dunia ada” (Yoh 17:1-5)

Juga di sebuah ruang atas, Grace dibaringkan di sebuah inkubator, di ruang Goretti. Bagian atas kepala Grace ditutup dengan kasa, dan ia diberi bantuan selang oksigen serta sonde untuk makanan. Sehari-hari kondisinya terlihat cukup stabil, dan keluarga terus mendukung dengan doa yang tak kunjung putus. Kasih seperti ini menampakkan kemuliaan Allah yang hadir dengan sederhana namun begitu kuatnya.

…Bukan untuk dunia Aku berdoa, tapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku,…dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka” (bdk. Yoh 17:9-10).

Beberapa foto dan video clip dikirimkan oleh Bimo untuk memperlihatkan baby Grace yang terus mau berjuang untuk hidup dan meluangkan waktu-waktu berharganya bersama keluarga yang mencintainya. Bila diputarkan lagu anak-anak seperti Twinkle twinkle, ia tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Tapi begitu diperdengarkan lagu Erat Dengan HatiMu, baby Grace memberikan response dengan gerakan-gerakan tertentu. Sepertinya ia tahu benar lirik lagu itu …betapa ajaib dan dahsyatnya Tuhan kejadianku, Kau menenun diriku serupa gambaranMu, sungguh berharga di mataMu Tuhan kehidupanku, Kau membawa hatiku mendekat erat dengan hatiMu… Berapa banyak yang sungguh menyadari ini, atau kita cuma sekedar take it for granted akan hidup kita? Mungkin perlu seorang anencephalic baby untuk mengingatkan betapa hidup kita berharga di mata Tuhan.

Sekali waktu saya sedang di kamar bersama Lia dan Ninu, sementara Bimo sedang Misa di kapel Carolus. Ninu bilang “Bimbim terus ada di dekat Grace karena dia nggak mau kehilangan moment…”

(to be continued)

Advertisements

The Grace of Life, The Glory of Easter I

(dedicated to Bimo, Ninu, and YM4L)

Terpujilah Tuhan! Pekan Suci dan Paskah tahun ini sungguh kaya, karena Allah mengijinkan saya bersentuhan dengan indahnya dan kuatnya anugerah kehidupan. Bukan kebetulan ini terjadi pada waktu yang bersamaan dengan persiapan kami meluncurkan YM4L (Youth Mission 4 Life), sebuah gerakan orang muda untuk membela, mendukung, dan mewartakan anugerah kehidupan. Mujizat memang bisa hadir dengan berbagai wajah, dan kali ini dengan wajah yang sungguh cemerlang bercahaya.

This is the story tentang seorang anak baptis yang mengajarkan wali baptisnya tentang anugerah kehidupan. And it all started a few months ago…

Yesus memberitakan penderitaanNya

Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-muridNya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan…  (Mat 16:21)

Di tengah panasnya Jakarta yang sedang macet gila, BB saya berdering. Bimo, seorang sahabat dan partner kerja saya telpon dan mengajak untuk bertemu “…mau cerita tentang urusan keluarga” katanya. Sekitar 2 jam kemudian, ia dan istrinya – Ninu, duduk di depan saya di McDonald dekat Domus Cordis Center, rumah komunitas kami. Di kehamilan Ninu yang memasuki bulan kelima, mereka baru saja mendapati bahwa bayi mereka menderita anenchepaly (http://www.bayi-anencephaly.info), sebuah kondisi bayi yang mana sesudah dilahirkan biasanya hanya berusia beberapa menit atau paling lama beberapa hari, karena pembentukan otak dan tempurung kepala yang tidak sempurna. Data statistik mengungkapkan bahwa 75% kelahiran seperti ini berakhir dengan kematian langsung bagi sang bayi. Ada kemungkinan kecil sekali bahwa bayi dapat bertahan hidup selama beberapa menit. What should I say? Even my heart cried when I heard the news, apalagi orang tuanya.

Beberapa menit kemudian, kita ngobrol tentang pilihan-pilihan yang mungkin bisa ditempuh. Beberapa pihak mungkin memikirkan kemungkinan aborsi, walaupun dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal. Misalnya bayi ini kan belum lahir, jadi belum hidup, di-aborsi saja tidak apa-apa. Saya pikir, siapa bilang belum ada kehidupan? Memangnya kapan sebenarnya kehidupan itu dimulai? Apakah sehari sebelum kelahiran? Apakah 2 hari sebelum due date bayi dikeluarkan sudah ada kehidupan? Tentu sudah. Bagaimana kalau seminggu sebelum kelahiran? Sudah juga. Lalu bila demikian, kapan tepatnya kehidupan ini mulai? Di usia 8 minggu, janin sudah memiliki organ tubuh yang lengkap. Mungkin 8 minggu kurang 1 hari, saat ada salah satu organnya yang belum sempurna, maka ia belum menjadi sebuah kehidupan manusia. Kalau keutuhan organ menjadi standar, seorang dewasa yang tidak mempunyai tangan juga berarti belum memiliki kehidupan, maka kita “aborsi” saja dia? Atau mungkin kita tidak yakin kapan kehidupan itu mulai? Kalau seseorang ingin meruntuhkan sebuah rumah namun tidak yakin di dalamnya ada orang atau tidak, apakah ia akan tetap meruntuhkannya? Tentu ia akan memastikan dulu, dan apabila ia tidak mendapat kepastian, maka ia tidak akan meruntuhkan rumah itu, karena bagaimanapun juga kemungkinan kehidupan manusia harus mendapatkan prioritas perlindungan.  Maka kalau bicara dari sudut pandang kepastian kehidupan, pendekatan terbaik adalah dengan tidak melakukan termination

Argumen lain yang tidak masuk akal adalah demi kenyamanan ibu. Untuk apa kehamilan diteruskan apabila toh akhirnya bayi ini akan meninggal juga. Di-terminate saja segera, and life goes on. Kalau saudara kita di-vonis kanker oleh dokter dan diprediksi akan meninggal dunia dalam waktu 6 bulan, maka demi kenyamanan keluarganya, kita “aborsi” saja dia segera hari ini, toh nanti 6 bulan lagi juga dia akan meninggal dunia. Memperjuangkan kenyamanan hidup dengan cara membunuh orang lain?

Atau daripada si bayi menderita, kasihan, kita aborsi saja. Dengan kata lain, kalau kita lihat orang tua kita menderita sakit karena usia lanjut, daripada menderita, kita “akhiri” saja penderitaannya dengan suntik mati…? Ah ada-ada saja.

Di tengah penderitaan seorang sahabat yang sakit, kita justru menemani dan mendampingi sebaik dan semampu kita. Kenyataan bahwa kemungkinan hidupnya tinggal 6 bulan bukan alasan untuk menelantarkannya demi alasan apapun, tapi justru kita memanfaatkan kesempatan singkat ini untuk membuat hidupnya semakin kaya, semakin penuh kasih, dan semakin penuh arti.

Maka bayi – mahluk yang lemah dan rapuh justru harus mendapat perlindungan sebaik-baiknya. Seharusnya, rahim ibu adalah tempat yang paling aman di dunia ini, karena di sanalah Allah mempercayakan sebuah anugerah kehidupan, untuk dikasihi, dipelihara, dan dikembangkan hingga berbuah limpah bagi kemuliaanNya.

Abortion is not a choice – in fact, murder is never a choice.

Sore itu, di McDonald kami bertiga menundukkan kepala, memohon rahmat Tuhan untuk menjalani hari-hari ke depan dengan tuntunan Roh Kudus, supaya apapun yang terjadi membawa kemuliaan bagi nama Tuhan. Artinya, hidup dalam rahim yang terus berjalan selama beberapa bulan ke depan bukan saja harus dipertahankan, tapi juga diperjuangkan dengan sepenuh hati. Artinya, hidup setelah kelahiran yang mungkin hanya dalam hitungan menit sekalipun, harus mendapatkan perlindungan sebaik mungkin. Justru waktu-waktu singkat ini adalah kesempatan satu-satunya untuk memberikan perhatian yang paling besar, senyum yang paling tulus, dan kasih yang paling hangat.

Maka seperti Yesus yang mulai memberitakan penderitaan yang akan dijalaniNya, begitu juga Bimo dan Ninu, and the little baby, mulai menjalani pergumulan ini. Mereka mulai berjalan mendekati Salib yang memang tidak pernah mudah untuk dipahami oleh hati kita yang rapuh ini.

Doa sore itu diakhiri dengan memohon penyertaan Bunda segala kehidupan, Bunda Maria.

Hail Mary, full of grace, the Lord is with Thee….

(to be continued)

Life is Beautiful

Life is a gift and I thank God for everything He is and everything He has done to me.

If I look back to 10-15 years ago, I realize that there has never been any moment in my life, where He left me. He has always been with me through all of my struggle and my pain. He has always been with me through all my failures and tears. Most amazingly, He has always been by my side even at the many times when I was not lovable. There were times – and I know not only a few of them – when I was not easy at all for others to love. However, during these tough moments, His love never departed. He held me even closer, and He said He loved me a million times. He proves me that there is indeed no limit to His love and mercy and goodness…

I thank Him for His unconditional love.

He teaches me that a pure gold is a precious offering unto Him, yet a heart of love is purer than gold and even more precious to His Own Heart. He teaches me that flowers tell the beauty of God’s creation, yet a lifetime of faithfulness and humility is more beautiful than the flowers of the springtime.  He teaches me that material wealth can reflect the riches of God’s abundance, yet a strong Godly character is richer than the world with all its material wealth.  

I thank Him for His Fatherly wisdom. 

Every person in this world reflects the face of Jesus. The most unloving person in this world is Jesus in disguise, inviting us to enlarge our capacity to love. The most unfavorable situation in this life is Jesus at work, encouraging us to expand our trust in Him. It is Jesus everywhere. It is love at work everywhere. And no matter what circumstances we have today, in the end love always wins. We don’t know what exactly will happen in a few years from now, or even a few minutes from now. But we do have the assurance that no matter what happens; love is always at work to make all things beautiful for us – for me.Jesus always wants to make me happy. Jesus always wants to fill me with joy – a never ending everyday joy of complete trust in Him.

I thank Him for His everyday grace.

He placed dreams in my heart, and He fulfills them one by one. He does not pour down events and situation from heaven, but He invites us to take part in His saving work of love. He showers us with divine grace from above, and allows us to undergo struggle and even failures. He accompanies us with His everyday strength and consolation to make our dreams come true. At the end of the day, it is not only the dreams that materialize, but the heart – the wounded and broken heart – has become full of wisdom and compassion. A heart just like His very own Heart.

I thank Him for life passion and dreams.

His love, His mercy, His forgiveness, His peace, His joy… they fill my heart to overflow.

His desires, His words, His promises, His smiles, His laughter… they fill my passion days and nights.

His protection, His blessings, His affirmation, His abundance, His trust in me… they fill my everyday walk, they enable me to fly like an eagle; they empower me to inspire the world with love.

He is everywhere in and around me. He is my life.

Life is indeed beautiful.