Wealth from God – Wealth for God

Beberapa tahun yang lalu, gue punya ketakutan yang buat beberapa orang lain sounds ridiculous. Simply said – gue takut kaya. Yup, gue takut jadi orang kaya. For some reason, gue selalu percaya bahwa Tuhan akan memberkati hidup gue, tapi gue takut akan berkat-berkat itu.

Why?

Dalam hidup gue, gue banyak ngelihat orang-orang kaya yang hidupnya sepertinya sangat jauh dari Tuhan. Gue banyak ngelihat orang-orang  yang – kadang gak usah terlalu kaya, tapi dengan “punya” harta dalam jumlah tertentu aja udah memperlihatkan attitude yang bikin gue gak napsu banget buat jadi seperti mereka. And many of them are close-related people around me. Baru punya ngga seberapa aja kelakuannya udah sangat gak sensitive terhadap orang-orang yang “kurang beruntung”  dibandingkan mereka. Gue percaya bahwa the real life test bukan pada saat mereka ngga berdaya dan ngga punya apa-apa, tapi justru waktu mereka udah punya uang banyak dan power besar dalam hidup mereka. Waktu mereka ngga punya apa-apa, mereka ngga bisa berbuat banyak. Tapi waktu mereka sudah punya banyak dalam hidup mereka, what they do with their wealth and power shows their quality. Dan jujurnya melihat hidup mereka banyak mengecewakan gue.

Hal kedua yang bikin gue takut jadi orang kaya, adalah karena melihat anak-anak mereka. Oh my God, yang ini bener-bener bikin gue ngerasa sedih. Banyak dari para senior kita yang kaya karena mereka kerja keras dan benar-benar tough menghadapi kehidupan. Tapi look at their children. Ini sedikit complain, itu sedikit ngomel. Mereka sangat dibelenggu oleh comfort zone yang memanjakan hidup mereka, sehingga mereka ngga lagi tough seperti orang tua mereka yang banting tulang dari sejak sangat muda, sampai sekarang jadi orang kaya yang strong and punya prinsip kuat. Gimana mereka bisa jadi orang yang peka terhadap sesama kalo mereka ngga pernah ngerasain hidup susah. Well, ngga usah hidup susah kali ya, tapi at least berhubungan sama orang-orang yang miskin dan menderita aja seringkali ngga mau. Iya sih banyak dari mereka yang complain ini itu dan bilang hidupnya susah, tapi complain-nya bukan karena ngga bisa makan, tapi karena laptop-nya rusak, atau karena ngga dapet tiket buat jalan-jalan ke Europe. Hmm, ada yg bilang ke gue kalo ini yang namanya suffering in comfort.

Anyway, gue ngga mau menghakimi siapa-siapa – en bukan maksud gue nulis ini untuk menghakimi. Mungkin mereka punya life struggle yang gue ngga pernah tau. So God have mercy on me.

Beberapa tahun terakhir ini Tuhan banyak merubah pandangan gue tentang kekayaan, lewat orang-orang kaya yang baik – really good rich people – Godly rich people.

Lewat kerjaan demi kerjaan, dan pelayanan demi pelayanan, Tuhan bawa gue untuk ketemu banyak sekali orang-orang di kebun anggurNya – yang kaya raya….:-) And yes, ada beberapa dari mereka yang membuat gue sangat sedih karena attitude dan kelakuan mereka. Tapi ada banyak juga yang baik, ada banyak juga yang rendah hati, ada banyak juga yang memberkati hidup gue, dan bahkan Tuhan pakai untuk memulihkan hati dan hidup gue.

Lewat orang-orang ini gue belajar bahwa kekayaan adalah kemurahan yang Tuhan berikan supaya kita juga bisa bermurah hati kepada sesama, lewat karya-karya penginjilan dan bantuan buat yang susah dan menderita.

And yang sungguh amazing adalah bagaimana mereka punya hati yang begitu besar untuk berbagi kekayaan mereka buat Gereja. Yes, they are amazing givers! Mereka mendapatkan kekayaan yang luar biasa berlimpah dari Tuhan, tapi mereka juga memberi luar biasa berlimpah buat Gereja en sesama. Even more amazing than the amount they give, is that they give away their abundant money with abundant joy! Yes, they are also joyful givers! 

Ada yang bilang bahwa terang aja mereka berbagi banyak, ya mereka udah kaya pastilah bisa kasih banyak. Nah kalo gue kan tiap bulan idup aja masih pas-pasan, gimana mau berbagi? Hmm… ngga juga sih. Gue banyak ngobrol sama orang-orang yang financially diberkati Tuhan luar biasa ini, dan gue nemuin bahwa mereka sudah punya kebiasaan – bahkan komitmen – untuk memberi dengan sangat murah hati sejak mereka masih gak punya uang dalam hidup mereka.

Seorang Tante yang sangat murah hati bercerita bahwa waktu dia masih kuliah, dia sering membuka rumahnya buat anak-anak kampus berkumpul dan berdoa, dan dia selalu menyediakan makanan dan macem-macem sarana supaya anak-anak ini betah ngumpul. Padahal saat itu dia bilang dia masih miskin, tapi dari waktu ke waktu Tuhan selalu berkati hidup dia sehingga dia bisa berbagi dengan yang lain. Semakin dia banyak berbagi, semakin dia ngalamin penyertaan dan berkat Tuhan dalam hidupnya. Hari ini dia banyak sekali berbagi buat karya-karya di keuskupannya. Gosh, I was so blessed meeting with her.

Seorang Oom cerita waktu usahanya hutang ke bank sangat sangat besar – lebih dari 11 digit rupiah, dia ngalamin belaskasih Tuhan yang luar biasa. Saat dia ada dana untuk mencicil hutangnya, eh dia malah dengar Tuhan suruh dia sumbang uangnya ke pelayanan Gereja. So dengan hati yang taat, sejumlah uang yang bisa dipakai buat beli rumah mewah itu, semuanya dia kasih buat pelayanan. Dengan hutang lebih dari 11 digit rupiah itu, pengusaha lain siap dengan 2-3 macam pembukuan (1 buat shareholder, 1 buat petugas pajak, 1 buat internal), tapi Oom ini memilih untuk hidup jujur di hadapan Tuhan dan bertahan dengan 1 pembukuan yang asli. Hmm…yang ini membuat gue berpikir. Luar biasa ya, sementara orang lain akan kabur atau berusaha membuat laporan palsu, Oom ini berpegang pada firman Tuhan dan terus belajar taat. Hari ini, usahanya sudah bebas dari hutang, hidupnya diberkati Tuhan luar biasa, dan beliau banyak dipakai Tuhan untuk mobilisasi dana bagi perluasan kerajaan Allah. Oom yang satu ini sungguh memberkati gue dengan his fatherly wisdom. Again, what a blessing for me to know him.

Ada lagi yang lain. Seorang Bapak in his forties. Waktu ketemu dia, first impression gue: He is a saint! Beneran, cara ngomongnya so gentle dan dari attitude-nya terpancar hati yang bener-bener sincere dalam melayani Tuhan. Setelah ketemu dia beberapa kali, ternyata mobilnya hari ini Mercy S-class, lain kali Land Cruiser, lain kali… wah pokoknya gak nyangka deh dibalik penampilannya yang luxurious, ada hati yang begitu tulus. Kalo kata istri gue, liat dong penampilannya dari atas sampe bawah merek semua.. he..he.. Kemudian gue juga dapet tau bahwa dia seorang yang sangat murah hati dalam berbagi di pelayanan. Oh my God, there are so many good rich people – Godly rich people! Where have I been all this time?

Ada Oom yang ini, Tante yang itu, Oom yang lain lagi, Tante yang lain lagi – satu per satu hadir dalam hidup gue dan menjadi such a strong and beautiful inspiration.

Gue belajar bahwa Tuhan mau memberkati hidup kita karena Dia begitu mencintai kita. Beberapa orang secara khusus Tuhan mau pakai untuk menjadi saluran berkat keuangan buat GerejaNya dan sesama. Pengalaman pelayanan gue menunjukkan bahwa karya-karya pewartaan butuh dana yang ngga kecil. Karya-karya penginjilan ngga murah, tapi Injil kerajaan Allah tetap harus diberitakan sampai ke ujung dunia. Di abad multimedia ini, pesan cinta dan kehidupan anugerah TUhan harus lebih lantang terdengar daripada suara-suara sekuler yang seringkali menyesatkan. Orang-orang miskin harus ditolong, dan anak-anak terlantar harus dipelihara supaya mereka kenal cinta Tuhan. Siapa yang mendanai proyek-proyek kecil dan proyek-proyek besar Tuhan kalau bukan anak-anakNya sendiri – seperti gue ini. (ciee..)

Gue belajar bahwa kita dipanggil untuk berbagi buat sesama. Semakin kita diberkati, semakin kita diutus untuk menjadi berkat buat sesama. Banyak orang bilang salah kalau kita kasih perpuluhan supaya diberkati Tuhan 100 kali lipat. Masa Tuhan disogok pakai perpuluhan? He..he.. dulu gue juga berpikir begitu, en memang salah kalau kita berpikir mau nyogok Tuhan. Tapi kenyataannya Tuhan itu memang sangat baik dan Dia mau memberkati kita. Berkat-berkatNya sudah Dia sediakan buat kita dan tinggal kita ambil. Caranya? Gimana kalau Tuhan bilang gini: Berkat-berkat untukmu sudah Kusediakan. Supaya kamu belajar memberi, terimalah berkat yang sudah Kusediakan itu dengan cara  memberi 10% dari hasil usahamu bagi GerejaKu…. Hmm.. rasanya sih fair enough. Apakah ini berarti nyogok? I don’t think so. Memang Tuhan sudah sediain kok berkatnya, hanya saja kita harus belajar memberi untuk mendapatkannya, supaya kita ngga terikat sama uang…

Jadi sekarang apakah kita perlu memberi perpuluhan? Gue selalu percaya bahwa cinta tidak dibatasi oleh angka tertentu. Jadi berilah buat Tuhan sebesar cintamu ke Tuhan. Angkanya? Ya terserah sebesar apa cintamu. Sepuluh persen boleh saja menjadi patokan dasar. Duapuluh persen juga boleh. Apalagi tigapuluh persen… Ada seseorang yang gue tau malahan mau kasih sembilan puluh persen buat berbagi dan sepuluh persen buat hidup keluarganya. Dan Tuhan memberkati hidupnya luar biasa berlimpah… (Berkat kan bukan cuma uang, banyak hal lain yang juga sangat penting, misalnya kesehatan, sukacita, keluarga yang harmonis, dsb.)

Apakah gue kasih perpuluhan supaya diberkati Tuhan? Yes of course.

Supaya diberkati 100x lipat? Oh yes definitely.

Supaya bisa memupuk kekayaan pribadi? No, never! Gue rindu diberkati Tuhan supaya gue bisa banyak berbagi dengan sesama yang menderita dan kekurangan. Gue rindu diberkati Tuhan supaya gue bisa menabur benih lewat pewartaan Injil. Gue rindu diberkati Tuhan supaya gue bisa membantu generasi muda Katolik bangkit dan berkarya buat Gereja dan dunia – dan mulai dari keluarga dan paroki kita masing-masing.

Hari ini, puji Tuhan atas those precious people – Godly rich people in my life. Apa gue mau hidup kaya?

Buat Tuhan? hayyuukk…!

(I’m on my way there already, just wait and see. Or even better – join me!)