The Grace of Life, The Glory of Easter I

(dedicated to Bimo, Ninu, and YM4L)

Terpujilah Tuhan! Pekan Suci dan Paskah tahun ini sungguh kaya, karena Allah mengijinkan saya bersentuhan dengan indahnya dan kuatnya anugerah kehidupan. Bukan kebetulan ini terjadi pada waktu yang bersamaan dengan persiapan kami meluncurkan YM4L (Youth Mission 4 Life), sebuah gerakan orang muda untuk membela, mendukung, dan mewartakan anugerah kehidupan. Mujizat memang bisa hadir dengan berbagai wajah, dan kali ini dengan wajah yang sungguh cemerlang bercahaya.

This is the story tentang seorang anak baptis yang mengajarkan wali baptisnya tentang anugerah kehidupan. And it all started a few months ago…

Yesus memberitakan penderitaanNya

Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-muridNya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan…  (Mat 16:21)

Di tengah panasnya Jakarta yang sedang macet gila, BB saya berdering. Bimo, seorang sahabat dan partner kerja saya telpon dan mengajak untuk bertemu “…mau cerita tentang urusan keluarga” katanya. Sekitar 2 jam kemudian, ia dan istrinya – Ninu, duduk di depan saya di McDonald dekat Domus Cordis Center, rumah komunitas kami. Di kehamilan Ninu yang memasuki bulan kelima, mereka baru saja mendapati bahwa bayi mereka menderita anenchepaly (http://www.bayi-anencephaly.info), sebuah kondisi bayi yang mana sesudah dilahirkan biasanya hanya berusia beberapa menit atau paling lama beberapa hari, karena pembentukan otak dan tempurung kepala yang tidak sempurna. Data statistik mengungkapkan bahwa 75% kelahiran seperti ini berakhir dengan kematian langsung bagi sang bayi. Ada kemungkinan kecil sekali bahwa bayi dapat bertahan hidup selama beberapa menit. What should I say? Even my heart cried when I heard the news, apalagi orang tuanya.

Beberapa menit kemudian, kita ngobrol tentang pilihan-pilihan yang mungkin bisa ditempuh. Beberapa pihak mungkin memikirkan kemungkinan aborsi, walaupun dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal. Misalnya bayi ini kan belum lahir, jadi belum hidup, di-aborsi saja tidak apa-apa. Saya pikir, siapa bilang belum ada kehidupan? Memangnya kapan sebenarnya kehidupan itu dimulai? Apakah sehari sebelum kelahiran? Apakah 2 hari sebelum due date bayi dikeluarkan sudah ada kehidupan? Tentu sudah. Bagaimana kalau seminggu sebelum kelahiran? Sudah juga. Lalu bila demikian, kapan tepatnya kehidupan ini mulai? Di usia 8 minggu, janin sudah memiliki organ tubuh yang lengkap. Mungkin 8 minggu kurang 1 hari, saat ada salah satu organnya yang belum sempurna, maka ia belum menjadi sebuah kehidupan manusia. Kalau keutuhan organ menjadi standar, seorang dewasa yang tidak mempunyai tangan juga berarti belum memiliki kehidupan, maka kita “aborsi” saja dia? Atau mungkin kita tidak yakin kapan kehidupan itu mulai? Kalau seseorang ingin meruntuhkan sebuah rumah namun tidak yakin di dalamnya ada orang atau tidak, apakah ia akan tetap meruntuhkannya? Tentu ia akan memastikan dulu, dan apabila ia tidak mendapat kepastian, maka ia tidak akan meruntuhkan rumah itu, karena bagaimanapun juga kemungkinan kehidupan manusia harus mendapatkan prioritas perlindungan.  Maka kalau bicara dari sudut pandang kepastian kehidupan, pendekatan terbaik adalah dengan tidak melakukan termination

Argumen lain yang tidak masuk akal adalah demi kenyamanan ibu. Untuk apa kehamilan diteruskan apabila toh akhirnya bayi ini akan meninggal juga. Di-terminate saja segera, and life goes on. Kalau saudara kita di-vonis kanker oleh dokter dan diprediksi akan meninggal dunia dalam waktu 6 bulan, maka demi kenyamanan keluarganya, kita “aborsi” saja dia segera hari ini, toh nanti 6 bulan lagi juga dia akan meninggal dunia. Memperjuangkan kenyamanan hidup dengan cara membunuh orang lain?

Atau daripada si bayi menderita, kasihan, kita aborsi saja. Dengan kata lain, kalau kita lihat orang tua kita menderita sakit karena usia lanjut, daripada menderita, kita “akhiri” saja penderitaannya dengan suntik mati…? Ah ada-ada saja.

Di tengah penderitaan seorang sahabat yang sakit, kita justru menemani dan mendampingi sebaik dan semampu kita. Kenyataan bahwa kemungkinan hidupnya tinggal 6 bulan bukan alasan untuk menelantarkannya demi alasan apapun, tapi justru kita memanfaatkan kesempatan singkat ini untuk membuat hidupnya semakin kaya, semakin penuh kasih, dan semakin penuh arti.

Maka bayi – mahluk yang lemah dan rapuh justru harus mendapat perlindungan sebaik-baiknya. Seharusnya, rahim ibu adalah tempat yang paling aman di dunia ini, karena di sanalah Allah mempercayakan sebuah anugerah kehidupan, untuk dikasihi, dipelihara, dan dikembangkan hingga berbuah limpah bagi kemuliaanNya.

Abortion is not a choice – in fact, murder is never a choice.

Sore itu, di McDonald kami bertiga menundukkan kepala, memohon rahmat Tuhan untuk menjalani hari-hari ke depan dengan tuntunan Roh Kudus, supaya apapun yang terjadi membawa kemuliaan bagi nama Tuhan. Artinya, hidup dalam rahim yang terus berjalan selama beberapa bulan ke depan bukan saja harus dipertahankan, tapi juga diperjuangkan dengan sepenuh hati. Artinya, hidup setelah kelahiran yang mungkin hanya dalam hitungan menit sekalipun, harus mendapatkan perlindungan sebaik mungkin. Justru waktu-waktu singkat ini adalah kesempatan satu-satunya untuk memberikan perhatian yang paling besar, senyum yang paling tulus, dan kasih yang paling hangat.

Maka seperti Yesus yang mulai memberitakan penderitaan yang akan dijalaniNya, begitu juga Bimo dan Ninu, and the little baby, mulai menjalani pergumulan ini. Mereka mulai berjalan mendekati Salib yang memang tidak pernah mudah untuk dipahami oleh hati kita yang rapuh ini.

Doa sore itu diakhiri dengan memohon penyertaan Bunda segala kehidupan, Bunda Maria.

Hail Mary, full of grace, the Lord is with Thee….

(to be continued)